Buklet Bunga Indah dan Sekantong Permen, Selamat Natal dari Imam Khomeini
Teheran, 2015
Beberapa hari sebelum Natal, aku mulai tidak semangat dengan pekerjaan rumah. Nama dan wajah Ayatullah Imam Khomeini terus menguasai pikiranku.
Aku mengatakan kepada ayahku, kalau aku ingin pergi keluar rumah dan bertemu melihat seseorang. Orang itu memberikan perasaan yang sama seperti saat melihat gambar wajah Yesus Kristus. Ayahku harus datang dan mendengar apa yang dikatakan oleh Ayatullah Khomeini.
Berbeda dengan harapanku, ayahku menolak keras bahkan mengancam memutuskan untuk melaporkan kepada polisi.
Aku kehilangan kesabaran dan bertanya mengapa ayahku menolak untuk melihat Ayatullah Khomeini dan malah mau melaporkan Imam itu ke polisi.
“Dia, Imam itu, sama seperti penceramah agama lainnya. Dia pasti hanya akan memberikan nasihat kosong tidak berguna,” kata ayahku
“Ayah selalu menasihati aku untuk tidak berburuk sangka. Aku pikir ayah orang yang rasional… dia akan berpidato pada hari ini. Ayo kita pergi mendengarkannya, setidaknya demi putramu ini. Ayah boleh pergi atau pulang kalau tidak puas mendengarkan kata-katanya,” kataku pada ayah.
Tiba-tiba ayahku seperti berbalik hati.
“Kapan kita harus pergi?” tanya ayah.
“Kurang dari setengah jam lagi. Dia Imam Khomeini terbiasa datang tepat waktu,” kataku dengan gembira, ayahku mau mendengarkan Imam Khomeini, meskipun mungkin dia akan pergi setelah tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Imam Khomeini.
Dan memang benar seperti perkiraan ku, Imam Khomeini memang selalu datang tepat waktu, Ketepatan waktu kedatangan Ayatullah Imam Khomeini sangat mengesankan.
Dia datang tepat waktu dan duduk di tempat biasa di mana dia biasa bertemu dan menjamu wartawan Perancis dan dari seluruh dunia.
Semua berdiri sebagai tanda penghormatan kepada ayatullah agung ini. Dia duduk di bawah pohon rindang dan mulai berbicara tenang dengan suara lembut.
Penerjemah bersiap menyampaikan pidatonya yang disampaikan dalam Bahasa Iran dan Arab ke dalam bahasa kami, Bahasa Perancis.
Beberapa menit setelah mendengar kata-kata Imam, kemudian, aku melirik melihat wajah ayah.
Syukur, dia ternyata mendengar dengan seksama kata-kata Imam Khomeini.
Ada sinar di wajahnya, dan aku melihat air mata menetes dari matanya, tampak jelas ayah sangat terkesan oleh kata-kata, Ayatullah Khomeini.
Aku bernapas lega. Di hari lain, kami juga datang kembali mendengarkan Ayatullah Khomeini dan kali ini ayah tidak lagi marah, apalagi melaporkan Imam Khomeini ke Polisi Perancis.
Di malam Natal, kelahiran Yesus, kami sedang duduk untuk merayakannya. Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Ayah menuju pintu dan aku mengikutinya.
Seseorang dengan sebuah buket bunga yang indah dan sekotak permen, memasuki rumah dan berkata,
“Ini hadiah dari Ayatullah Khomeini. Beliau mengucapkan selamat kepada kalian di hari kelahiran Yesus dan menyampaikan permohonan maaf dengan hormat jika mengganggu perayaan Natal dan kehadirannya mengganggu desa.” kata orang itu. Orang itu utusan Imam Khomeini untuk memberikan hadiah kepada kami semua nya, yang merayakan Natal. Dan Imam Khomeini malah meminta maaf kepada kami semuanya.
Ayah menerima bunga dan kotak permen itu.
“Sampaikan terima kasih kepadanya.” kata Ayahku, sambil berdiri kagum pada semua cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh Imam Khomeini.
Lalu ayahku masuk ke dalam ruangannya tanpa berkata apa-apa lagi.
Beberapa menit kemudian aku mendengarkan ayahku menangis.
Ibu bertanya apa yang terjadi. Aku bergegas menuju ke Ibu untuk menjelaskan.
“Tahun ini Al-Masih memberi kita hadiah: bunga dan permen.”
(dr. Louise, Prancis, 1978)
****
Kisah di atas dituturkan oleh seorang dokter asal Prancis, Dr. Louise, yang masih remaja pada akhir tahun 1978.
Pada waktu itu Imam Khomeini menjadikan sebuah desa kecil di Paris, Neauphle lè Château, sebagai tempat tinggal sementara sebelum kepulangannya yang bersejarah ke Tehran dari pengasingan, dan disambut oleh seluruh Rakyat Iran dalam Revolusi Islam Iran yang bersejarah.
Imam Khomeini diasingkan oleh Syah Iran Reza Pahlevi ke luar Iran. Membuang orang yang lembut hati itu ke tempat pengasingan nya di Perancis.
Imam Khomeini almarhum adalah seorang ulama bercahaya yang di dalam darahnya mengalir juga darah Rasulullah. Imam Khomeini adalah salah satu anak cucu cicit keturunan Rasulullah, yang dibuang oleh Syah Reza Pahlevi gara-gara menentang penjualan minuman keras di seluruh Iran.
Gerakan nya untuk menentang kebijakan sekuler Pemerintah Iran pada waktu itu didukung oleh seluruh mahasiswa Iran.
Dari Kota Qum, tempat Imam Khomeini menjadi dosen, gerakan moral menentang penyebaran minuman keras itu meluas ke seluruh Iran.
Pada tahun 2015 yang lalu penulis mengunjungi makam Imam Khomeini yang disemayamkan di sisi makam putra nya yang tewas dibunuh oleh Syah Reza Pahlevi, di Teheran.
" Wah selamat datang sahabat Syiah dari Indonesia, " kata salah satu teman Iran yang waktu itu menjemput di Bandara IKA, Imam Khomeini Internasional Airport.
"Wah saya Sunni bukan Syiah ..." Jawab saya singkat dengan tersenyum kepada sahabat dari Iran tersebut.
Sahabat saya kebingungan melihat seorang Sunni mengunjungi makam Imam Khomeini.
Sahabat saya itu meski Syiah seperti Imam Khomeini, akan tetapi mungkin dia tidak pernah tahu bahwa Imam Khomeini bukanlah seorang ulama biasa. Imam Khomeini adalah ulama spesial. Imam Khomeini memiliki hati yang bercahaya, dipenuhi cahaya iman, seperti kesaksian dr. Louise yang melihat Imam Khomeini seperti wajah Yesus Kristus yang dipenuhi kedamaian.
Di depan pusara Imam Khomeini saya sempat membacakan Al Fatihah dan juga Surat Yasin.
Di sebelah makam Imam Khomeini ada juga sebuah makam, makam putra imam Khomeini.
Pada saat acara pemakaman putra laki-lakinya pada waktu itu, Imam Khomeini lebih memilih menepati janji nya mengajar kepada mahasiswa nya, dibandingkan duduk berduka cita di tempat pemakaman anaknya.
Ulama Suci Imam Khomeini memang bermahzah Syiah, tapi Imam Khomeini tidak pernah mengolok-olok para Sahabat Rasulullah. Bahkan Imam Khomeini menghormati dan menghargai para sahabat Rasulullah.
Berbeda dengan banyak oknum pengikut Syi'ah lainnya yang suka menghujat dan menghina para sahabat Rasulullah.
Imam Khamenei, penerus Imam Khomeini pernah mengeluarkan maklumat Negara agar penghujatan dan penghinaan kepada para sahabat Rasulullah dihentikan. Imam Khamenei melarang saling mengolok-olok kepada sesama manusia.
Perilaku Imam Khomeini dalam merayakan Natal tersebut tidak hanya menginspirasi Dr. Louie tapi juga banyak warga lainnya di Perancis untuk mencari tahu dan meneliti Islam lebih jauh .
Salam dan ucapan maaf Imam Khomeini dalam perayaan Natal di Perancis karena Nabi Isa a.s. atau Yesus adalah salah satu Rasul yang sangat dihormati dalam Agama Islam.
Menurut Imam Khomeini tidak ada salahnya memperingati hari lahir salah satu Rasul yang diberikan gelar Ruhullah. Nabi Isa adalah Rasul istimewa yang bahkan sudah diwisuda oleh Ruhul Qudus sejak masih bayi. Sementara Nabi dan Rasul lain biasanya diangkat menjadi Nabi dan Rasul pada usia 40 tahun.
"Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam, di dunia maupun di akhirat. Para Nabi itu bersaudara walaupun ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.”
- Rasulullah Muhammad saw. -
(HR. Bukhari & Muslim)
24 Jumadil Akhir 1446, 25 Desember 2024
Hadits diatas adalah salah satu pesan Rasulullah yang diwariskan untuk umat Islam sepanjang jaman. Betapa dekatnya Rasulullah dan Isa a.s., Yesus Kristus, Sang Ruhullah itu. (Vijay)

