Ketika BBC Menulis Tendensius Soal Bencana Aceh

 

Bencana Aceh Dan Gaya Provokatif BBC London

 


 

Oleh : Vijay,Managing Editor
IT Expert, Jurnalis senior dan Pengamat Media


BBC adalah salah satu media yang tidak terverifikasi Dewan Pers. Dengan alasan sebagai media internasional, maka BBC.com dianggap tidak perlu melakukan proses verifasi media ala Dewan Pers. Demikian juga Dewan Pers, pasti tidak akan melirik media on line BBC yang mulai tahun 2007 mulai merambah Indonesia sebagai lokasi liputan internasionalnya. Indonesia bukanlah bekas protektorat Inggris, akan tetapi peran Inggris sangat bermakna dalam perjalan sejarah Republik. Paling tidak BBC yang berdiri sejak tahun 1922 itu, beroperasi di 56 negara persemakmuran Inggris, dan 14 negara lain yang masih termasuk protektorat Inggris. Akan tetapi berdasarkan catatan yang dipercaya BBC London saat ini telah menjangkau lebih dari 200 negara di seluruh dunia.


 

Baca Lebih Lengkap Di Informatika News Line

Lihat Link Lengkap Di Bawah Ini 

http://www.informatikanewsline.my.id/2025/12/bencana-aceh-dan-gaya-provokatif-bbc.html

 

  

Akan tetapi sayangnya dalam masalah bencana banjir di Aceh, BBC memilih bersikap tendensius. Dalam laporannya per 23 Desember 2025 misalnya, BBC memilih membuat judul "..Bayang Bayang Referendem Dan Konflik Bersenjata.... " dibandingkan fokus judul lain yang lebih humanis. Tak pernah ada ide referendum Aceh sejak tahun 2005 pasca bencana Tsunami dahyat yang juga melanda Aceh. Frasa Referendum yang diangkat oleh BBC London, terlihat jelas-jelas memaksakan sebuah ide baru ke masyarakat Aceh, gaya tulisan yang mendorong ide baru ini, adalah upaya menggoyang kestabilan Aceh sendiri. Demikian juga frasa kata konflik bersenjata yang diangkat oleh BBC seolah-olah tidak memahami bahwa gerakan Aceh Merdeka yang menggunakan senjata itu telah berakhir sejak Bencana Tsunami 2005 dan ditandatanganinya perjanjian Hensingki. Gerakan Aceh Merdeka telah berfusi ke Republik dan berubah menjadi gerakan politik dalam negeri.

Memang masih ada riak-riak kecil yang bahkan mengajak untuk lepas dari Republik, tapi ide ini sudah tidak lagi populer, karena tokoh-tokoh GAM sendiri saat ini telah memutuskan berjuang di kancah politik dalam negeri. Daripada ngotot untuk bicara merdeka, lebih baik energi digunakan untuk membangun masyarakat Aceh lebih baik di bawah Republik. 

Para jurnalis BBC, media yang tidak terverifikasi DEwan Pers ini, juga mengangkat ide tentang Daulah Islam yang dibawa semangatnya oleh GAM. Tanpa memahami bahwa sejak tahun 2005 sampai saat ini, Aceh adalah lokasi yang tekah diijinkan untuk menegakkan syariat Islam secara terbatas. Daripada menggunakan KUHP Nasioal, Pemerintah NAD menggunakan hukum syariat Islam dibandingkan dengan wilayah provinsi lain di Indonesia. Daerah Istimewa Aceh yang berubah menjadi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sudah berbeda dengan Aceh pada masa Orde Baru dan masa sebelum perjanjian Helsinki. 

 



 


 

Baca Juga : 

Rusia Menyatakan Bahwa BBC Bersikap Tendensius, Tidak Seperti Jurnalis, Akan tetapi Membawa Agenda Aksi Seperti Politik Terselubung Yang Telah Direncanakan  
 

Laporan tendensius ini lebih terlihat lagi saat BBC mengangkat pendapat Munawar Liza Zainal, bekas Walikota Sabang (2007-2012), lulusan Gontor dan kulian di UGM, yang mengatakan bahwa bencana banjir saat ini peristiwanya lebih dahsyat dari Tsunami tahun 2005. Pendapat Subyektif yang tidak lengkap seperti ini seharusnys juga diuji dengan lebih obyektif oleh BBC. Membiarkan pendapat personal pada sebuah peristiwa Tsunami terbesar sepanjang sejarah, adalah sebuah kerja jurnalis penuh tendensius, kalau tidak dikatakan sebagai pembohongan publik.


 

 

Tsunami Aceh menewaskan 230 ribu orang, tidak sebanding dengan korban banjir bandang saat ini, terakhir sebanyak 1135 korban ditemukan di Tiga Provinsi. Sebanyak 503 korban tewas ada di Aceh. Bagaimana membandingkan korban 230 ribu orang tewas dengan 503 korban banjir bandang.

Memang ada banyak kebijakan pemerintah pusat yang belum tepat dilakukan. Tidak berpihak pada masyarakat, akan tetapi tidak serta merta mengangkat sebuah fakta dengan tendensius seperti itu. Warga republik sudah banyak yang memiliki pemahaman yang baik. Tidak semuanya ada dalam mode mudah dihasut atau mudah dibohongi dengan cara-cara seperti itu.

Akan tetapi judul provokatif yang diangkat oleh BBC bukanlah judul kosong tanpa makna. Frasa Referendum dan Konflik Bersenjata adalah sebuah kode yang memberikan ide untuk memulai kekacauan lagi di Bumi Nangroe Aceh Darussalam. Frasa Referendem dan Konflik Bersenjata yang coba diangkat oleh BBC adalah sebuah kode bagi yang berkepentingan untuk membuat Aceh rusuh, agar segera melakukan proses legalisalisasi bencana banjir bandang menjadi Bencana Nasional. Karena jika modus Bencana Nasional ditetapkan, maka para profokator global yang berkepentingan untuk menyusupkan dan menghidupkan ide Referendum akan membonceng Bantuan Asing. Bukan itu saja, akan dibawa juga senjata untuk merealisasikan frasa Konflik Bersenjata.

Beruntung jika modus Bencana Nasional tidak dijalankan. Karena jika itu dijalankan maka kejadian yang lebih parah dari Bandara aneh di Morowali bisa terjadi lebih parah. Para professional yang bekerja untuk Frasa Referendum akan berjalan dan pasokan senjata akan menyusul.

Bukan sekali ini BBC bergaya tendensius. Beberapa tahun yang lalu Pemerintah Rusia juga menuduh BBC melakukan pemberitaan yang tendensius, memiliki sebuah agenda politik terselubung, dan sebagainya.  

Seharusnya BBC bisa mengangkat permasalahan banjir bandang Aceh ke arah yang lebih humanis. Karena Aceh adalah salah satu pilar Republik yang menjadi bagian penting. Bahkan sejak Masa Majapahit, Aceh adalah bagian penting yang membangun Republik. Fokus yang salah dan cenderung tendensius yang tidak memahami kelembutan bahasa gaya Melayu Nusantara, membuat narasi tendensius itu menjadi telanjang dan terlihat dengan jelas. Tapi sebagai media yang tidak terverifikasi Dewan Pers, mungkin BBC bisa berlega hati. Mungkin, tidak akan ada kaor-kaor dari Dewan Pers, seperti ketika media yang sama adalah media di dalam negeri. Tapi sebuah tulisan yang tendensius menjadi tidak terlihat menyenangkan jika dibaca, dan tentu saja karena kualitasnya tidak menyenangkan, rate professional media, berubah menjadi dari media professional menjadi alat propaganda semata. Jakarta juga tahu bahwa dana sangat besar sudah masuh sejak tahun 2000 an dengan tujuan untuk menghancurkan Republik menjadi berkeping-keping, seperti konflik Balkan, atau Arab Spring yang sekarang bergerak menjadi pembantaian di Gaza.