Jadi, Apakah Pseudo Politik Itu ?

 

Jadi, Apakah Pseudo Politik Itu ?



Bandung, News Corner Kota

Definisi politik yang sebenarnya adalah yang pernah disampaikan untuk  pertama kali oleh Plato (375 SM) dalam Politeia. Plato menulis karya terkenal yang berjudul asli Politeia, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Republic

 

Baca Tulisan Lebih Lengkap Di Situs News Corner Kota 

Lihat Link Lengkap Di Bawah Ini Lebih Lanjut  

http://www.news-corner-kota-batu.domainnews.biz.id/2026/01/strategi-politik-palsu.html


Dalam Politeia, atau yang mudah diplesetkan menjadi policy, Plato menceritakan bagaimana Socrates, gurunya, yang jujur, bersih, akan tetapi pada tahun 399 SM, dijebloskan ke dalam penjara karena fitnah, dan kemudian dihukum meminum racun sampai meninggal, detik-detik Socrates menjalani tuduhan fitnah itu ditulis Plato dalam Apologia, Phaedo. Aristoteles, murid Plato, yang kemudian mendetailkan Politeia (policy) dalam karya nya Politics.

Politik bukanlah strategi dengan basis niatan yang acak dan tidak terkontrol. Karena Polietis dalam Politheia, bukanlah merujuk pada sebuah strategi yang asalnya dari bumi, akan tetapi berakar pada tiga unsur Estetis, Etis, Logis yang mendasari berdirinya sebuah policy dan kemudian menjadi politik sebagai sebuah seni dari policy.

Politik adalah sebuah pola dan strategi yang mengikuti sebuah jalan dengan pemain catur yang sudah ditentukan dari awal. Bukan sebuah pemahaman yang dipotong-potong terpisah-pisah dari sebuah grand design besar. 

Kesalahan terbesar dari mereka yang menamakan dirinya sebagai para pemain politik, adalah ketika melihat sebuah tujuan bumi dengan niatan yang berasal dari bumi, sebagai sebuah pilar politik yang mereka sebut-sebut itu. Jika tujuan bumi dan niatan bumi yang menjadi sandaran apa yang mereka sebut sebagai politik, maka itu tidak lain hanyalah sebuah kata yang dicuri dari makna yang sebenarnya dari politik. Jika tujuan bumi dan niatan bumi, atau bahasa pasarannya, hanya untuk sebuah elektabilitas, atau untuk menaikkan elektabilitas, yang menjadi sandaran nya, maka Socrates tak perlu harus mempraktekkan meminum racun yang membinasakan dirinya sendiri. 

Ada yang jauh lebih dalam dari sekedar keuntungan financial, atau perebutan kekuasaan, atau untuk penguatan kroni dan keluarga serta kelompoknya saja, dalam sebuah definisi politik. Ada yang lebih dalam dari itu, sehingga Socrates rela dimasukkan dalam penjara, dalam kehidupannya yang penuh kesederhanaan. Socrates tidak membalas apapun yang datang menyerang, akan tetapi hanya memberitahukan apa yang ada di dalam dada mereka yang menyerang dirinya, sampai meninggal.

Fir aun adalah seorang pemain politik yang sangat hebat. Penguasa besar Mesir itu bahkan mengaku dirinya sebagai Rob, sebagai Tuhan. Diperlukan seorang Musa yang telah bertemu dengan api di sebuah Lembah Gunung Tuwa, untuk menghadapi Firaun.  Prince Of Egyp, Musa memberikan atraksi yang bisa dipelajari dengan sangat rinci sepanjang masa, saat beradu politik dengan Raja Mesir, King of Egyp, Firaun. 

Intensi menjadi hal penting utama, dalam permainan politik,  seperti yang didemostrasikan oleh Prince Of Egyp yang berubah menjadi sang utusan versus sama-sama Prince of Egyp yang telah berubah menjadi King of Egyp. Ada dua Prince of Egyp, akan tetapi keduanya berkembang menjadi sebuah entitas yang berbeda, yang satu menjadi sang utusan, sementara yang satunya lagi menjadi King of Egyp.


Niat yang menjadi inti intensi (dalam definisi psikologi, intensi itu bukan sekedar niat, akan tetapi ada unsur rencana dan usaha() dari adalah inti utama yang dibongkar pertama kali, sebelum memahami bagaimana sebuah proses politik itu berjalan. 

Jadi niat lebih dalam dari intensi. Intensi adalah niat atau kemungkinan subjektif seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu yang merujuk pada kebulatan tekad atau rencana seseorang untuk melakukan tindakan tertentu di masa mendatang (Fishbein, dan Ajzen).

Jadi unsur utama politik yang pertama dan utama adalah niat. Apakah mata air niatan itu berasal dari dunia atau berasal dari Bumi semata ? Maka begitu mata air niat itu memang berasal dari Bumi, maka batallah istilah politik itu.  


" Jadi jika begitu dimanakah Allah ?, " tanya seorang penggembala kambing di tengah Padang Pasir, saat diajak untuk berbuat politik busuk.

 

Politik adalah sebuah penamaan atau istilah teknis, bagi sebuah strategi tingkat tinggi yang dimulai dari meninjau terlebih dahulu, dari mana mata air dari niat itu. Jika mata air niatnya adalah bumi, maka batallah apa yang disebutkan sebagai politik itu. 

 

Politik adalah sebuah strategi dengan niat awal hanyalah kepada Yang Ahad. Ketika setting awal niat itu sudah tepat, maka jadilah politik, pada apa yang didemonstrasikan oleh Musa di panggung sejarah dan juga di dalam ruang di dalam diri, setiap manusia, ras manusia Nabi Adam Abu Muhammad, yang ini. 

Tapi sebagai sebuah ras penutup seluruh alam, maka demonstrasi penting di dalam Ras Abu Muhammad juga menjadi demonstrasi paling sempurna di seluruh alam-alam.

Apa yang terjadi, jika mata air pertama niat ini tidak sesuai standar ? Maka berhati-hatilah, karena pilihan yang kedua lah yang akan dijalani selanjutnya. Maka yang akan jadi adalah apa yang diperankan oleh Fir'aun, bukan Musa. Mungkin bahkan terlalu tinggi menyamakan para pemain pseudo politik ini dengan Fir'aun. Mungkin seperti si pengecut yang mengadu domba kekuatan tangan Musa dengan nyawa warga Mesir yang terpaksa tewas, terkena pukulan Prince of Egyp Musa. Atau pseudo politik Hamman, atau Qorun, atau sederet pemain pseudo politik yang bisa ditunjuk di Mesir.

Fir'aun sendiri, adalah seorang raja yang terkenal memiliki profil keadilan dalam memerintah rakyat Mesir. Bahkan saat Musa The Prince Of Egyp membunuh seorang warga Mesir tanpa sengaja, hukum Mesir pun mengejar Musa untuk diadili. 

Fir'aun tidak semena-mena, dan bukannya tidak adil, atau bahkan Fir'aun bukanlah seorang raja yang plongak plongok, celingukan,...bahkan yang disebut plongak plongok oleh Fir'aun adalah Musa. a.s. Karena saking pandainya Fir'aun menampilkan argumen dalam pseudo politiknya. Fir'aun tidak sebodoh itu, bahkan sangat pandai dalam berargumen dan memainkan pseudo politik nya.

Tanpa mata air niat yang tepat, sebuah tindakan yang menjadi bentuk realnya, hanyalah menjadi strategi bumi saja, tak layak disebut politik, paling jauh hanyalah dikatagorikan pseudo politik saja. Karena politik itu suci dan bersih, tidak berbohong dan tidak menipu untuk dan karena maksud-maksud bumi. Politik berani meminum racun yang membunuh dirinya sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh Socrates.

Pelajaran demontrasi politik itu tidak berhenti setelah Fir'aun tenggelam, pelajaran politik itu kemudian diteruskan oleh Khidr, a.s. saat bertemu dengan Musa a.s. dan Josua (Yusa' bin Nun). 

Nabi Khidr a.s. memberikan demonstrasi yang lebih jelas dan telanjang, bagaimana jalan nya sebuah politik itu. Saat mengambil kapak dan melobangi perahu, membunuh seorang anak muda, dan menegakkan tembok rumah yang hampir roboh dalam kondisi lelah, kelaparan, dan kehausan di sebuah negeri yang pelit, saat itu pelajaran politik itu terlihat lebih nyata di mata Musa a.s. dan di dalam mata hati, seluruh manusia sampai akhir jaman. 

Nabi Khidr a.s. saat ini, masih hidup, sampai menjelang hari Kiamat, bersama 3 Nabi yang lain, termasuk Yesus (Isa, a.s.), Nabi Idris a.s., dan Nabi Ilyas, a.s.  

Dalam sebuah riwayat, menjelang hari Kiamat yang akan datang, Nabi Khidr a.s. berhadapan dengan Al Masih Dajjal. Dajjal mempraktekkan pseudo politik dengan membunuh Khidr a.s. dan kemudian dengan bangga mempraktekkan cara menghidupkan Khidr a,s. kembali. 

Dengan bangga Dajjal menunjukkan kehebatannya membunuh Khidir a.s. dan kemudian menghidupkannya kembali. Akan tetapi karena praktek pseudo politik, dan bukan the real politik yang dipraktekkan oleh Dajjal, maka saat Dajjal akan membunuh Khidir setelah dihidupkannya untuk yang kedua kalinya, Dajjal tak mampu melakukannya lagi. Nabi Khidr a.s. pun yang tak mampu dibunuh lagi oleh Dajjal untuk yang kedua kalinya. 

Pseudo politik hanya akan berakhir seperti Fir'aun, tenggelam di Laut Merah. Atau seperti Dajjal yang menegasikan apa yang telah dilakukan sebelumnya kepada Nabi Khidr a.s. 

Bahkan apa yang dilakukan dalam membunuh Nabi pun tak lagi ada jejaknya. Bahkan Dajjal sang penipu itu pun ditipu, oleh pseudo politik, yang dia praktekkan sendiri. Dajjal bahkan tidak memahami bagaimana hal itu terjadi, sampai sinar mata Sang Ruhullah Isa. a.s. membuatnya tewas, hanya dengan sekali pandang saja. Pandangan yang bahkan menembus cakrawala dan menghancurkan menutup kisah hidup Dajjal.

Jadi yang dikatakan sebagai politik oleh para pengikut Dajjal dan pengikut Fir'aun sebenarnya hanyalah pseudo politics saja. Memalukan, karena pasti belum mampu memahami mathematica, maka tidak ada politic yang dilahirkan, yang menjadi produk dari Academia. Yang memasuki academia hanyalah yang memiliki mathematica, yang akan menghasilkan politics, dan bukan pseudo politics, yang pasti bukan beradal dari Academia. Bahkan sejak 2500 tahun yang lalu hal ini sudah diajarkan dan sudah diketahui, tidak sulit melihat apakah ini politics atau bukan, tinggal melihat apa yang menjadi niatnya saja. Tapi niat bukanlah yang ada di atas lidah, tapi apa yang tersembunyidi dalam dada. 

Dalamnya laut dapat diduga, akan tetapi dalamnya hati siapa yang tahu ? 

 (Dions)