Vacation Fade Effect : Efek Liburan Yang Telah Sirna, Ketika Kesegaran Liburan Itu Pun Hilang Dalam Sekejab
Liburan menjadi salah satu usur penting yang dimasukkan dalam pemantauan kesejahtaraan keluarga oleh pemerintah pada tahun 2000 an yang lalu. Konsep keluarga sejahtera dan keluarga pra sejahtera digunakan oleh pemerintah untuk menilai level sebuah keluarga di Indonesia itu apa sudah sejahtera atau masih dalam rentang pra sejahtera.
Baca Tulisan Lengkap Di Headline News Indonesia
Lihat Link Lengkap Di Bawah Ini
http://headlineindonesia.newmediatelecom.my.id/2026/01/waspadai-fade-effect-vocation-efek.html
Pengelompokan inilah yang kemudian berkembang menjadi patokan pemberian bantuan sosial, bantuan langsung tunai, dan berbagai bantuan lain yang diberikan oleh negara kepada masyarakat.
Salah satu parameter dari banyak parameter lain yang dibuat untuk menilai sebuah keluarga sejahtera atau masih pra sejahtera, adalah kemampuan dari anggota keluarga tersebut mengalokasikan pendapatan yang mereka terima dalam bentuk kegiatan jalan-jalan atau liburan. Keluarga dalam kelompok keluarga pra sejahtera tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan wisata dalam jangka waktu tertentu, begitu salah satu parameter yang terkait dengan kegiatan liburan atau jalan-jalan.
Akan tetapi banyak diantara kita semua yang merasa aneh, setelah menikmati even jalan-jalan atau berwisata, atau liburan, ternyata bukannya kesegaran yang didapat, akan tetapi malah kepenatan dan keruwetan psikologi yang parah. Bukannya mendapatkan kesehatan mental, kegiatan wisata malah membuat semua kegiatan harian lebih berantakan, dibandingkan sebelum jalan-jalan.
Fennytri adalah salah satu contoh kasusnya. Demi memuaskan keinginannya berjalan-jalan di Bukit Pandawa, di Pandaan, di Tretes, lokasi wisata yang mengasyikkan itu, Fennytri bersama teman-teman nya memutuskan berpetualang seru ke Bukit Pandawa. Menikmati liburan akhir tahun 2025 yang lalu dengan mode mengasyikkan.
Boro-boro mendapatkan kesegaran pasca jalan-jalan, yang didapatkan Fennytri, malahan keruwetan yang mengganggu aktivitas sehari-harinya setelah menginjakkan kaki nya ke ruangan kantornya di bilangan lokasi Industri sekitar Bandara Juanda.
"Ini aplikasi tiktok saya kok jadi gak jalan... waduh padahal ini ada transaksi yang biasa saya lakukan di tiktok ini... gimana .... waduh ini pasti gara-gara aplikasi Capcut kemarin... memory instalasinya saja sudah mendekati 1 Gb...." kata Fennytri ke Headlinenews Indonesia.
Keruwetan yang terkait liburan akhir tahun itu semakin membuat Fenny tri kalang kabut, karena semua aplikasi keuangan yang biasa digunakan untuk membantu transaksi di lingkungan perusahaannya juga berpotensi terganggu.
"Ini foto dan video liburan di Bukit Pandawa, kan harus bisa diedit untuk siap up load, memakai capcut...wah ini jadi mengganggu beberapa aplikasi yang jalan di handphone android saya ini ...gimana ya... apa saya beli handphone baru saja deh...." dan akhirnya muncul keputusan-keputuan yang sebelumnya belum pernah ada dalam pikiran Fenny tree, karena efek liburan yang malah membuat ruwet.
Professional Psikologi Herry Mardian menganalis gangguan psikologis pasca liburan ini dalam sebuah tulisanya yang menarik. Headline news Indonesia memetikkan tulisan psikolog kawakan lulusan Universitas Indonesia ini untuk bahan kajian penting dan menarik saat menghadapi liburan. Pengalih bahasa buku bagus berjudul Cinta Bagai Anggur ini, memberikan pemahaman bahwa efek berantakan pasca liburan itu dikenal dalam bahasa psikologi sebagai Vacation Fade Effect.
Vacation Fade Effect, saat Efek Liburan Sirna (Herry Mardian)
MUNGKIN sudah mulai ada yang sebel, kenapa waktu liburan kemarin pikiran rasanya segar, stress pekerjaan hilang. Waktu itu kita rasanya sudah 'replenished', kembali segar jadi 'orang yang baru'. Siap masuk kantor, siap kerja.
Tapi ternyata, sekarang juga sudah mulai terasa burn-out lagi. Cepet amat ya?
Di psikologi, itu namanya "Vacation Fade Effect"--Efek Liburan yang Sirna. Atau "Post Vacation Syndrome": ada rasa gloomy yang membayang di batin setelah liburan usai.
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kesegaran mental setelah liburan itu cuma bertahan dua sampai empat minggu saja. Hanya selama itu tubuh kita bisa menyimpan efek segar itu.
Jadi, messagenya begini. Bisa dipastikan kalau kita cuma fokus ke sekali liburan besar seminggu atau dua minggu di akhir tahun setelah kerja mati-matian setahun, efek kesegarannya nggak akan ngimbangin burn-out dan stress nya setahun sebelumnya. Kesegaran liburannya cuma berasa ilusi.
Karena tubuh manusia hanya bisa menyimpan batere kesegaran liburan beberapa minggu saja, maka yang dibutuhkan bukan semacam work hard setahun dan party hard dua-tiga minggu di akhir tahun. Tapi, keteraturan. Tubuh dan mental kita butuh keteraturan. Kuncinya adalah frekuensi, bukan durasi, dan bukan intensitas.
Jadi, alih-alih fokus ke liburan akhir tahun, para ahli menganjurkan ada ganti suasana (liburan kecil) mungkin setiap sebulan atau dua bulan. Ini bukan 'liburan' yang selalu harus ke Paris atau ke Pangandaran. Tapi, ambillah semacam kemping, hiking seharian, atau pergi ke luar kota semalam saja. Atau bahkan sekedar olahraga di suasana baru.
Atau bahkan ganti lingkungan sosial ke lingkungan sosial yang lain. Buat kita, terjemahannya misalnya bisa ke panti asuhan sebulan sekali, praktek dokter sukarela gratis sebulan atau dua bulan sekali di daerah pinggiran, ngasih training gratis di desa pinggiran, dan sebagainya. Itu 'ganti lingkungan sosial'.
Kalau kita sedakah atas nama Allah--sedekah tenaga, pikiran, waktu--untuk orang yang membutuhkan, ya wajar kalau Allah mengganti dengan kesegaran dan kesehatan, dengan perspektif yang luas, dengan pengalaman.
Jadi ya itu. Kerja sudah mulai terasa lagi sebagai rutinitas dan beban? Memang batere kesegaran liburan manusia cuma punya daya tampung dua mingguan. Empat minggu tops.
Kuncinya adalah frekuensi, dan ganti suasana (liburan kecil) yang disebar secara merata dalam periode setahun. Bukan fokus liburan besar habis-habisan tapi hanya sekali setahun.
(GIW)


