Bu Walikota Eva : Salah Strategi Pembangunan Kok, Salahkan Manusia Silver

Bu Walikota Eva : Salah Strategi Pembangunan Kok, Salahkan Manusia Silver

 


 

Bandung, 15/02/2026

Walikota Bandar Lampung Hj, Eva Dwiana menangkap basah manusia silver di Bandar Lampung. Hj. Eva adalah walikota dua periode dari PDIP, yang menjabat sebagai Walikota sejak tahun 2021 (Periode Pertama (2021-2025), Periode Kedua (2025-2030)). Akan tetapi narasi penuh emosional dan keangkuhan gaya pejabat publik Hj. Eva Dwiana itu malah banyak mengundang sindiran tajam, bahkan sindiran dari para netizen. 

 

 




 

Fenomena manusia silver, sebenarnya adalah sebuah tanda penting, gagalnya pembangunan. Rakyat gagal dibangun, dan gagal mendapatkan pekerjaan yang layak bagi kehidupannya. Program Walikota selama 5 tahun ini di Kota Bandar Lampung telah gagal menghapus keberadaan manusia silver.

Fenomena manusia silver, adalah cerminan, sulitnya mencari pekerjaan yang layak untuk kehidupan sehari-hari. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, apa ada pekerjaan yang layak ? Jika tidak, maka manusia silver pun menjadi pilihan pekerjaan. 

Akan tetapi, yang sebenarnya, bukan hanya semata-mata gagalnya mempersiapkan lapangan pekerjaan yang sesuai. Akan tetapi lebih kepada kegagalan pendidikan kepada seluruh rakyat. Manusia silver yang ditangkap basah oleh Bu Walikota adalah cermin nyata kegagalan memerintah Bandar Lampung selama ini. Seperti kata peribahasa menepuk air didulang terpercik muka sendiri. Yang gagal walikotanya yang disalahkan rakyatnya. 

Materi pendidikan yang selama ini diberikan, gagal memberikan pemahaman yang paripurna tentang sumber-sumber penghidupan yang berlimpah yang ada di tanah ini. 

Seharusnya analisis, lebih dilakukan, kepada Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung, bukan kepada manusia silver. Karena manusia silver hanyalah respons, atau dampak dari kegagalan Dinas Pendidikan memberikan pendidikan yang tepat, Dan Dinas Tenaga Kerja yang tidak mampu memberikan pekerjaan yang layak untuk rakyat Kota Bandar Lampung.

Yang seharusnya lebih malu, saat ada fenomena manusia silver adalah walikota, Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Tenaga Kerja. Akan tetapi bahkan mencari sumber kesalahan saja gagal dilaksanakan. 

Kuman di sebrang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak terlihat. 

Menemukan sumber kesalahan adalah seni tersendiri. Tanpa memahami dengan tepat di mana letak kesalahan, maka pemecahan masalah yang diambil juga pemecahan masalah temporer. 

Rehabilitasi di Dinas Sosial memang menjadi pilihan pemecahan masalah temporer. Akan tetapi yang menjadi masalah utama belum terpecahkan. Pertanyaan pentingnya adalah mengapa fenomena manusia silver ini muncul ? 

Kalau ini muncul karena hobby, maka mengarahkan mereka menjadi penghibur publik adalah langkah yang paling tepat untuk mengarahkan talenta terpendam ini. Bukan Satpol PP atau Rehabilitasi di Dinas Sosial.

Akan tetapi jarang atau bahkan hampir tidak ada fenomena manusia silver yang muncul dari hoby atau talenta. Rika Safitri yang melakukan penelitian tentang fenomena manusia silver mengambil kesimpulan bahwa manusia silver bukanlah muncul dari hobby atau talenta yang patut didorong untuk menjadi pekerjaan penghibur publik

Hasil penelitian Rika Safitri yang dilakukan di Bandar Lampur ini menyimpulkan bahwa fenomena manusia silver di Kota Bandar Lampung disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor ekonomi, lingkungan,dan orang tua. Penyebab mereka menjadi manusia silver adalah faktor keterbatasan ekonomi karena mereka tergolong dari keluarga miskin, faktor lingkungan yang mendukung anak-anak ini menjadi bagian dari anak jalanan, faktor orang tua yang berpendidikan rendah dan berpenghasilan pas-pas-an, faktor penghasilan yang cukup besar ketika menjadi manusia silver, serta faktor solidaritas pertemanan yang kuat. (Judul Penelitian Fenomena Sosial Menusia Silver Di Kota Bandar Lampung, UIN Raden Intan, Lampung, 2023)

Penelitian lain yang dilakukan oleh M. Ridho Rivaldi memberikan kesimpulan bahwa menjadi manusia silver dan manusia boneka bukanlah pilihan utama dari informan penelitian yang ditemukan di lapangan. Namun, dikarenakan sebuah keterpaksaan karena adanya desakan ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan hidup (Judul Penelitian : Fenomena Menjamurnya Manusia Silver Dan Manusia Boneka Di Kota Palembang, Universitas Sriwijaya, Palembang, 2022)

Jadi sebenarnya ada masalah fatal yang lebih mendasar yang sedang dialami oleh rakyat. Pemecahannya bukan hanya melakukan proses rehabilitasi semata, akan tetapi harus melakukan penelitian yang lebih mendasar lagi. Kesalahan strategi pembangunan yang gagal menghapus kebodohan dan kemiskinan, serta gagal mempersiapkan lapangan kerja yang layak, sebaiknya lebih dilihat, dibandingkan hanya melihat lokasi rehabilitasi sebagai pemecahan masalah, Bu Walikota Bandar Lampung. (Vijay)