Perjanjian Giyanti, Strategi Cerdik Raja Raja Jawa Menghadapi Devide Et Impera Belanda
Oleh : Sastrahadi Wisesa
Pengamat Sejarah Keraton Nusantara
Sastra Gending (Sultan Agung Hanyokro Kusuma)
ASMARADANA
Gang brangta mangusweng gending Kang satengah perebutan Kang ahli gending padudon Lawan ingkang ahli sastra, Arebut kaluhuran Iku wong tuna ing ngilmi Tan ana gelem kasoran.
Hasrat memainkan gending Seperti sebuah pertarungan Para ahli gending bertengkar Dengan ahli sastra, Saling mengunggulkan diri Itu pertanda mereka masih bodoh Merasa takut ternista
Sejatinya wong ngagesang Apa ingkang binasan Iku kang kinarya luhur………….Yekti kekandangan kibir Rebut luhuring kagunan Dadi luput sakarone.
Sesungguhnya manusia hidup ituApa yang dilakukan Itulah yang akan memuliakan derajadnya.……….Selalu berlagak sombong Pamerkemulian dan kepandaian Malah kehilangan dua-duanya.
Kang ngani gending luhurnya Pinet saking hakekat Ingakal witing tumuwuh......Ananing Hyang saking akal Takokna kang wus ngualam
Mereka katan nilai gending Tumbuh dari hakekatnya Wujudnya tumbuh seperti biji, Wujud yang melahirkan keilahian Tanyakanlah orang yang berilmu.
Wite osikireng ngilmi Gending ngakal ingkang marna …………Uga nrus swara kang lihung Lafai Allah kang toyibah.
Pangkal tumbuhnya pengetahuan Berkembang menjadi gending-wujud………….Juga melahirkan nada yang agung Lafal Allah yang mulia.
Berbeda dengan analisis para ahli sejarah mengenai Perjanjian Giyanti, yang berfokus pada upaya adu domba Kolonialis Belanda, sebenarnya dalam analisis yang lebih dalam, Perjanjian Giyanti sendiri adalah sebuah upaya cerdik dari raja-raja Jawa dalam menghadapi kekejaman dan kelicikan tentara Belanda.
Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 memiliki materi visual yang memecah Kerajaan Mataram, 100 tahun pasca meninggalnya Sultan Agung Hanyokro Kusuma pada tahun 1645. Selama hampir 100 tahun, setelah wafatnya Sultan Agung Hanyokro Kusuma, Belanda masih gagal menaklukkan Kerajaan Mataram, yang bahkan pada serangan pasukan yang kedua tahun 1629 berhasil membuat tewas Gubernur Hindia Belanda VOC, J.P.Coeen. Keberhasilan besar Sultan Agung Hanyokro Kusumo dalam Peperangan melawan VOC yang menewaskan Jan Pieterzoon Coen adalah pukulan telak yang dialami oleh Belanda, bukan hanya dendam akan tetapi rasa malu yang luar biasa pada kekuatan besar di belakang Pasukan Jawa yang diperhitungkan remeh-temeh tersebut.
Dendam VOC pada Sultan Agung tak pernah terpuaskan. Semua strategi tipuan licik dan keji, untuk membalas sakit hati pada Sultan Agung Hanyokro Kusuma, coba dilakukan secara terus menerus, akan tetapi tak ada satupun yang berhasil menjatuhkan Sultan Agung Hanyokro Kusuma. Sultan Agung adalah salah satu Pahlawan Nasional yang bahkan kelicikan VOC Belanda juga tak mampu mendekati atau bahkan menyentuh Sultan Agung.
Beberapa versi sejarah mengangkat tewasnya J.P Coen pada serangan kedua Pasukan Mataram ke Batavia itu (tahun 1629), sebagai hasil kerja sukses telik sandhi Mataram yang hebat.
Akan tetapi analisis yang lain, melihat bahwa kematian JP.Coeen akibat serangan Kolera yang membuat Sungai Ciliwung, yang melewati dan bermuara di Batavia, teracuni oleh kuman Kolera yang disebar secara sengaja, dari strategi perang Pasukan Mataram.
Bukan hanya JP. Coen yang tewas akan tetapi puluhan bahkan ratusan tentara VOC Belanda juga ikut tewas karena Kolera. Serangan kedua 1629 ini menimbulkan kerugian yang sangat besar pada Belanda.
Sejarah versi VOC Belanda, memang mengangkat kehancuran 14 ribu Pasukan Mataram di Batavia. Akan tetapi jumlah yang disajikan dalam sejarah itu, adalah jumlah yang dinarasikan dengan gaya penguasa Kolonial. Tak pernah ada narasi yang jujur mengenai jumlah tentara Belanda yang tewas dalam pertempuran besar itu.
VOC Belanda memang sangat suka memutar balikkan fakta dan mengangkat kemenangan semu sebagai sebuah fakta sejarah yang dipaksakan. Sasarannya selalu jelas terlihat, Devide Et Impera.
Akan tetapi kenyataan sejarah tetap mencatat, bahwa meskipun Belanda meng klaim telah menghancurkan 14 ribu pasukan Mataram, akan tetapi kematian JP Coen adalah bukti vital yang tak terbantahkan oleh sejarah, bahwa Belanda memang hancur berantakan diserbu oleh pasukan Mataram. Apalah artinya narasi penghancuran 14 ribu pasukan Mataram, dibandingkan dengan tewasnya J.P. Coen ? Mereka yang mampu melakukan penilaian dengan tepat akan mampu melihat hal ini dengan jelas.
Bahkan dalam strategi permainan ilmu catur pun dihafami, bahwa jika anak catur Raja tewas, maka permainanpun berakhir, meskipun dalam permainan catur semua pion prajurit dalam papan catur berhasil disingkirkan. Bukankah menggelikan, untuk menutupi rasa malu kehilangan Pemimpin tertingginya di Hindia Timur, maka narasi pembantaian 14 ribu prajurit Mataram pun disampaikan. Sungguh para pencatat sejarah yang tidak tahu malu.
Sultan Agung Hanyokro Kusuma sendiri, masih sehat
sehat saja sampai saat tahun 1645 beliau wafat. Dua windu setelah kematian
JP.Coen, Sultan Agung Hanyokro Kusuma masih hidup dengan sehat. Demikian
juga Kerajaan Mataram masih tetap tegak tidak goyah. Jadi selama dua windu setelah kematian J.P. Coen, apa yang dilakukan oleh Belanda, bukankan itu adalah pertanyaan penting ? Dua windu itu 16 tahun. Selama 16 tahun kemudian, Belanda bahkan menyentuh Sultan Agung Hanyokro Kusuma saja tidak mampu. Bukankah itu hal yang sangat memalukan ?
Kampanye bohong kemenangan Belanda dalam realitas sejarah tak pernah benar-benar terbukti.
Justru kecerdasan Sultan Agung Hanyokro Kusuma terlihat dalam berbagai keputusan politik yang dibuat pasca peperangan besar di Batavia dan kematian Gubernur Jenderal JP Coen.
Sultan Agung, faham benar kelicikan yang dimiliki oleh VOC Belanda. Kemampuan memutar-balikkan fakta, orang-orang dari negeri kincir angin itu, sangat terkenal di dunia. Berpura-pura menjadi korban padahal sebenarnya dialah pelaku utama.
Pada tahun 1636, 1 windu setelah serbuan pertama Pasukan Mataram ke VOC, tahun 1628, Sultan Agung mendirikan kabupaten Karawang. Pangeran Kertabumi diangkat sebagai Adipati Kerawang yang pertama. Pendirian Kadipaten Kerawang ini adalah salah satu kampanye kemenangan lain, yang ditunjukkan oleh Sultan Agung, sekaligus menjadi counter attact propaganda palsu Belanda.
Apapun
propaganda palsu Belanda tetap akan tertolak, karena dalam kenyataannya, 8
tahun setelah serbuan pertama ke VOC, Mataram malah mendirikan Kadipaten
(Kabupaten) Karawang. Daerah yang jaraknya hampir 700 kilometer dari
pusat kerajaan Mataram. Jarak yang jauh dari Pusat Kerajaan Mataram ini juga menjadi tesis lain, betapa sebenarnya Belanda benar-benar telah mengalami kekalahan total.
Sultan Agung memiliki strategi yang lebih kuat dalam mengabadikan kemenangan peperangan nya pada sejarah.
Peninggalan lokasi Politik Kerawang oleh Sultan Agung, adalah sebuah anti thesis dari narasi memutar-balikkan fakta oleh Belanda. Seolah olah Sultan Agung mengatakan, bahwa 700 kilometer arah Barat Mataram adalah masih wilayah Kesultanan Mataram. Dan hanya beberapa kilometer saja pengaruh Batavia sampai ke Kerawang. Kerawang menjadi batas demarkasi sekaligus stempel kemenangan Pasukan Mataram membendung pengaruh VOC Belanda.
Akan tetapi, realisasi sejarah peperangan, yang terjadi antara Mataram dan VOC Belanda, pasca wafatnya Sultan Agung memang terus terjadi. Perebutan daerah kekuasaan Mataram, juga berhasil dilakukan, oleh Kolonial Belanda. Beberapa daerah, memang akhirnya dikuasai oleh Kolonial Belanda. Mendekati Perjanjian Gianti skema penghancuran Keraton Jawa Mataram yang telah lemah, hanyalah merupakan sebuah tugas yang mudah.
Dalam kondisi darurat seperti inilah tiba-tiba terjadi sebuah "Sandiwara" perebutan kekuasaan di Mataram. Sandiwara keluarga ini melibatkan Susuhunan Pakubuwana II, Pangeran Mangkubumi, dan Raden Mas Said.
Konflik ini dibuat dengan setting pengangkatan Pangeran Prabasuyasa yang bergelar Pakubuwana II menjadi raja baru.
Raden Mas Said cucu Amangkurat IV (putra Arya Mangkunegara, putra sulung Amangkurat IV) diminta melakonkan permintaan hak tahta Kesultanan Mataram Islam, menyusul kelakuan yang sama yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi.
Konflik yang terjadi antar cucu-cucu dan cicit Mataram, yang juga trah Sultan Agung, sebenarnya telah diskenariokan sejak masa Sultan Agung.
Jika kondisi darurat melanda keraton Islam, maka memecah keraton, adalah strategi terbaik untuk bertahan. Strategi yang disusun oleh Sultan Agung ini, saat ini, dikenal dengan strategi yang oleh ahli security disebut strategi survivability. Strategi survivability ini, ditemukan oleh para Profesor dari Melon University, Amerika Serikat dalam menghadapi kondisi darurat serangan bertubi-tubi dalam sistem IT. Akan tetapi strategi bertahan sistem IT, ini ternyata bahkan telah direalisasikan dan dipraktekkan oleh Sultan Agung, hampir 400 tahun yang lalu.
Sultan Agung Hanyokro Kusuma memahami , bagaimana hukum Bernaulli diimplementasikan dalam politik keraton. Kemampuan dan pengetahuan Sultan Agung Hanyokro Kusuma memang telah terbukti berkali kali.
Bahkan menghancurkan VOC dengan bantuan wabah
Colera adalah salah satu strategi yang luar biasa yang digelar oleh
Sultan Agung. Jika dengan kekuatan manusia tak mampu menguasai benteng
VOC, maka dengan kekuatan alam, yang mampu dikreasikan dan dikendalikan, maka benteng VOC itu, pasti
akan dapat ditembus. Seperti strategi gaya Apolonian pada saat Perang Troya pada masa Yunani Kuno.
Setelah kemenangan melawan Belanda, Sultan Agung Hanyokro Kusuma, berkonsentrasi untuk mengajarkan strategi bertahan melawan Belanda dengan jalur strategi budaya. Serat Sastra Gending yang diajarkan sendiri oleh Sultan Agung Hanyokro Kusuma, bukanlah serat sembarangan, akan tetapi Serat Sastra Gending adalah sebuah kitab Strategi melawan Kolonialisme sampai 300 tahun ke depan.
Hukum Bernaulli dan Strategi bertahan model Survivability ini dikodifikasikan dalam bait bait serat Sastra Gending yang sangat masyhur. Strategi perang menyerbu langsung, strategi perang menggunakan kekuatan alam, strategi bertahan dengan konsep Bernaulli, Survivability, Strategi perang menyerang dalam kondisi terjepit Supit orang, adalah rentetan strategi perang orang Jawa yang dipraktekkan dengan sukses oleh Sultan Agung Hanyokro Kusuma.
Serat Sastra Gending ini, bahkan berhasil mengantarkan perjuangan panjang melawan kolonialisme sampai pada tahun 1945, 300 tahun setelah wafat Sultan Agung.
Angka
300 tahun, adalah angka berulang, yang sangat dikenal di Pulau Jawa.
Angka 256 tahun mendekati 300 tahun juga terjadi pada masa Raja
Airlangga (1037) menuju ke Masa Raja Majapahit Raden Wijaya (1293) yang
menghancurkan penjajah kuat Ku Balai Khan di delta Sungai Brantas. Pada sejarah yang membentang di masa kerajaan Jenggala Airlangga, sampai kerajaan Majapahit, Raden Wijaya bisa dipelajari dengan seksama inti pola dan strateginya. Pola
Serangan yang sama, dan posisi strategis yang tidak terlalu berbeda, bisa diamati antara dua jangka waktu di dimensi waktu yang berbeda ini, antara Raja Airlangga menuju Raja Wijaya, dan antara Sultan Agung Hanyokro Kusuma, dengan para proklamator kemerdekaan Republik.
Konflik menjelang perjanjian Gianti adalah salah satu, bukti lain kecerdasan Strategi Sultan Agung, dalam mempertahankan kerajaan Islam di Pulau Jawa. Dengan strategi memecah keraton, menjadi beberapa keraton maka Singa yang Ganas pun akan mampu ditaklukkan. Belanda adalah Singa yang licik dan kuat, menghadapi nya harus dengan memecahkan konsentrasi negara Singa itu.
Dan Belanda pun memasuki strategi jebakan yang memang telah dibuat oleh Sultan Agung Hanyokro Kusuma, yang bahkan detail perjuangan itu dibukukan dalam Serat Sastra Gending.
Belanda merasa
memenangkan perang dengan memecah keraton. Akan tetapi sebaliknya, mereka
malah kewalahan dengan kerajaan yang berubah wajah menjadi lebih dari 1
wajah. Akan tetapi bahkan Belanda merasa di atas angin, tanpa bisa
memahami dari sisi mana sebenarnya mereka disesatkan oleh strategi
cerdik Sultan Agung. Bahkan VOC Belanda sendiri tidak pernah sadar bahwa mereka sedang dibawa di sebuah strategi yang bahkan mereka sendiri pun tidak memahami. VOC Belanda memasuki jebakan ilusi kemenangan, dalam sebuah implementasi strategi perang Serat Sastra Gending.
nglurug tanpa bala
menang Tan tanpo anggasorake
angutuk Lor kebo kidul
Belanda tak pernah memahami apa arti deretan kata-kata itu. Kata kata yang tertanam tertancap erat dalam budaya orang Jawa.
Konflik
seolah-olah dibuat semakin rumit, ketika Raden Mas Said, lebih efektif
melakonkan kerjasama dengan Pangeran Mangkubumi untuk merebut kekuasaan.
Wafatnya Pakubuwana II adalah titik penting. masuknya Belanda dalam
jebakan drama putra putra istana Jawa. Sebuah strategi ilutif yang diambil pada saat musuh sudah menduduki wilayah kekuasaan keraton.
Pangeran Mangkubumi mengangkat diri sebagai raja baru Mataram Islam. VOC yang mencoba menguasai Mataram terkejut dengan realitas buatan ini. Mereka buru-buru mencoba mencari Pengganti Pakubuwono II. Raden Mas Soerjardi (anak Pakubuwana II) diangkat sebagai raja baru bergelar Pakubuwana III. Strategi Belanda pun masuk perangkap. Padahal pengangkatan Pakubuwono III adalah skenario yang memang diharapkan dijalankan oleh Belanda.
Belanda bahkan tidak menyadari kebodohan yang mereka lakukan sendiri. Apakah VOC Belanda tidak memahami kondisi pada saat itu ? Bahkan, tanpa memunculkan matahari kembar Pakubuwono III, sebenarnya Belanda sudah menguasai keraton Jawa.
Setelah meninggal nya Pakubuwono II otomatis keraton Mataram menjadi kosong kekuasaan secara de facto dan de jure. Belanda bisa saja masuk menguasai Mataram, atau dengan cara lain, mendukung Pangeran Mangkubumi. Akan tetapi kedua hal mudah itu, malah tidak dilakukan oleh Belanda. Belanda malah mengangkat Pakubuwono III menjadi raja.
Secara sederhana sebenarnya Belanda telah dengan tidak sadar mereplikasi dan memunculkan dua musuh baru, dua keraton Jawa. Belanda yang merasa jumawa, malah tidak pernah bisa belajar dari kesalahan yang pernah dibuat bertahun-tahun sebelumnya.
Menundukkan satu Mataram saja butuh waktu puluhan tahun, bahkan sampai lebih dari 100 tahun gagal total. Begitu ada kesempatan di depan mata untuk menghancurkan Mataram, yang dilakukan VOC Belanda, malah melegalisasi dan mendukung munculnya musuh baru, keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Jika sebelumnya, musuh Belanda hanya Mataram saja, hanya 1 keraton, maka setelah perjanjian Gianti, musuh Belanda menjadi dua kerajaan Jawa. Bukankah Belanda sedang termakan oleh strategi nya sendiri ?
Dan kebodohan Belanda ini terus berlanjut sampai keraton Jawa pecah menjadi 4 keraton baru. Jumlah yang cukup untuk membuat Belanda menjadi kebingungan dalam menghadapi musuh Pribumi Keraton Jawa.
***
Perjanjian Gianti berhasil memecah keraton Jawa menjadi dua, Surakarta Hadiningrat di bawah Pakubuwono III dan Yogyakarta Hadiningrat di bawah Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I.
Perjanjian
Gianti, adalah tahap Pertama, strategi pemecahan keraton Jawa, sesuai dengan
strategi Sultan Agung. Surakarta Hadiningrat memang dikuasai oleh
Belanda, akan tetapi Yogyakarta muncul sebagai representasi keraton baru
yang bebas dari upaya campur tangan Belanda. Belanda dikerjain habis
habisan, akan tetapi karena begitu bodoh nya ahli strategi Belanda,
mereka malah merasa menang dengan memecah keraton Jawa menjadi dua. VOC Belanda dengan menggelikan, malah memasuki strategi papan catur yang rumit. Skak Mat sudah dilakukan pada Keraton Mataram, akan tetapi dengan kesadaran yang disesatkan oleh ilusi strategi perang, Belanda justru memunculkan tokoh Sultan dan raja Baru yang tidak mereka kuasai sepenuhnya.
Bukankah dengan pecahnya keraton, maka upaya puluhan tahun yang mereka lakukan, sebenarnya menjadi lebih sia sia ? Apakah mereka tidak memahami gaya jebakan strategi capit urang seperti ini ? Tidak, Belanda memangtidak memahami, dan hanya sekelompok kecil, keluarga istana, yang setia pada Sultan Agung, yang memahami bagaimana strategi ini dijalankan.
****
Dengan perjanjian Giyanti, dan beberapa perjanjian lain, yang memecah kerajaan Mataram, menjadi 4 kerajaan baru kemudian, maka fokus dari kekejaman Belanda akan terpecah. Upaya mengadu domba antar 4 kerajaan Jawa ini hanya berujung pada kekacauan strategi dan jebakan pada pemikiran adu domba pemerintah Kolonial sendiri.
Kecerdasan dalam
manajemen konflik yang dijalankan oleh Keraton Jawa ini membuat tak ada
satupun kerajaan Jawa ini yang berhasil dihancurkan atau bahkan mati di tangan
Belanda, bahkan sampai saat ini, hampir 400 tahun kemudian Mataram tetap berdiri dengan 4 kerajaan baru. Bahkan Belanda sendiri berpendapat akan lebih mendapatkan
manfaat jika kerajaan Jawa ini terpecah menjadi 4. Bagaimana mungkin, VOC Belanda yang mengaku kampiun dalam strategi perang ini malah termakan oleh jebakan ilutif yang digelar oleh Keraton Jawa ini ?
Bandingkan strategi keraton Jawa ini, dengan strategi keluarga Kerajaan Korea Selatan, saat melawan Jepang, yang berujung pada musnah nya seluruh trah raja raja di Korea Selatan.
Tak banyak yang memahami betapa cerdik strategi memecah kerajaan Jawa menjadi 4 buah kerajaan ini. Memecah kekuatan keraton dalam 4 penjuru mata angin dan mengurung strategi Devide Et Impera, dalam strategi 4 keragaman bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, mengembalikan gema tipuan Devide Et Impera kepada sang pemicu strategi dan membuatnya puas dalam kebingungan dan bingung dalam kepuasan.
***
Sebelum
perjanjian Giyanti ditandatangani, tekanan pemerintah Kolonial Belanda
kepada Mataram sangat lah ketat. Bahkan jika tidak dilakukan manajemen
konflik, maka tentu saja keraton Jawa, yang didirikan dengan basis
syariat Islam oleh Wali Sangga (Wali Songo) itu akan musnah dengan lebih
cepat. Manajemen konflik yang dilakukan secara rahasia oleh keluarga
kerajaan dengan sangat cerdas ini berhasil membohongi pemerintah Kolonial Belanda. Bahkan Belanda sendiri berpendapat perpecahan itu baik bagi kelanggengan kekuasaan Belanda, bukankah ini adalah pendapat yang menggelikan.
Dalam pasal perjanjian Giyanti sendiri terdapat pasal pasal perjanjian yang di setting seolah-olah menguntungkan Belanda, padahal bahkan jika difahami lebih, ternyata malah memberikan keuntungan untuk Keraton Jawa, dan menguntungkan bagi upaya-upaya perjuangan, meneruskan semangat perjuangan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram yang berani menyerang VOC Belanda di Batavia.
Pasal Perjanjian Gianti 1755
(1) Sultan berjanji akan menaati segala macam perjanjian yang pernah diadakan antara Raja-raja Mataram terdahulu dengan Kumpeni, khususnya perjanjian-perjanjian 1705, 1733, 1743, 1746, 1749.
(2) Sultan tidak akan menuntut haknya atas pulau Madura dan daerah-daerah pesisiran, yang telah diserahkan Sri Sunan Pakubuwana II kepada Kumpeni dalam Contract-nya pada tanggal 18 Mei 1746. Sebaliknya Kumpeni akan memberi ganti rugi kepada Sri Sultan 10.000 real tiap tahun
****
Kurang dari 150 tahun, setelah perjanjian Gianti, di Indonesia muncullah Kebangkitan Nasional pada tahun 1908. Bagaimana pun juga peran kestabilan 4 keraton Jawa ini lah, yang berhasil mendorong munculnya kebangkitan Nasional 1908. Jika tidak mampu berjalan tegak dengan berteriak, berjalanlah dengan merangkak dan dengan suara berbisik. Begitulah filosofis perjuangan orang orang keraton Jawa dalam menghadapi pengaruh penjajah Belanda.
(Edisi Revisi, 30 Januari 2026)
Baca Juga :
Bimtek Insan Pers Sidoarjo Di Surakarta
Menikmati Sholat Jum at Di Masjid Keraton, Masjid Agung Solo
Perjanjian Giyanti, Strategi Cerdik Raja Raja Jawa Menghadapi Devide Et Impera Belanda
