Puluhan Satelit Indonesia, Peran Penting Satelit Komunikasi Indonesia Dalam 50 Tahun Terakhir

Puluhan Satelit Indonesia, Peran Penting Satelit Komunikasi Indonesia Dalam 50 Tahun Terakhir 

 


 


Sejak peluncuran pertama Satelit Palapa A1 pada tahun 1976, Indonesia telah 50 Tahun merambah bisnis Satelit Komunikasi. Di Asia Indonesia adalah Negara pertama yang berani mengoperasikan Satelit Untuk Komunikasi. Dan menjadi negara ketiga di dunia yang berani mengoperasikan Satelit Komunikasi satelah Amerika Serikat Dan Kanada.

Sampai tahun 2026 ini, sudah ada sebanyak 29 buah Satelit tercatat pernah diluncurkan untuk digunakan Indonesia, baik oleh pemerintah Indonesia, atau bahkan oleh dunia bisnis, termasuk dunia Pendidikan Indonesia. Sebagai negera pemilik Satelit ketiga pertama di dunia Indonesia, termasuk negara yang paling maju dalam bisnis dan pengoperaasian Satelit Telekomunikasi. Di Asia Indonesia memimpin mengalahkan Jepang, China, Singapura, Iran, Korea Selatan, India, Israel, dalam pengoperasian Satelit Komunikasi Untuk kepentingan bisnis komunikasi sejak tahun 1976 yang lalu.

Pada tahun 2000, Pasifik satelit Nusantara (PSN) meluncurkan Satelit Garuda 1. Satelit ini adalah Satalit GSM pertama di dunia yang berani diluncurkan oleh dunia swanta Indonesia, mengalahkan dominasi Amerika Serikat, China, India, dan seluruh negara di dunia. 

Pada tahun 2016 Satelit BRI Sat adalah satelit pertama milik dunia perbankan Indonesia yang membawa nama Rakyat Indonesia menjadi satelit pertama milik perbankan yang ada di seluruh dunia. Belum pernah ada dunia perbankan di duna yang berani mengoperasikan Satelit selain Bank Rakyat Indonesia (BRI). BRI Sat adalah bukti kepemimpinan Indonesia di duna global dalam pemanfaatan satelit untuk dunia perbankan dan ekonomi.

Berikut adalah daftar Satelit milik Indonesia yang pernah diluncurkan dan atau sedang beroperasi atau yang telah usai beroperasi.
 

1976  Palapa A1      1976-Juni 1985.
1977  Palapa A2   10 Maret 1977- Januari 1988.    6 tahun
1983  Palapa B1     18 Juni 1983 - 1990.
1984 Palapa B2     3 Februari 1984 gagal              3 tahun
1987 Palapa B2P     21 Maret 1987 1996.            3 tahun   
 
1990 Palapa B2R     13 April 1990-2000.              2 tahun
1992 Palapa B4     14 Mei 1992  -  2005.             4 tahun
1996 Palapa C1     31 Januari 1996-1999   Gagal 
1996 Palapa C2     15 Mei 1996 - 2011.
1997 Indostar I (Cakrawarta I) 1997 -2004 sebelumnya 2011.   2 tahun
 
1999 Telkom-1     12 Agustus 1999.    2017, Seharusnya 2020.   
2000 Garuda-1   12 Februari 2000        : 2015.
2005 Telkom-2     16 November 2005-2020            4 tahun
2006 INASAT-1      LEO                       2006             
2007 LAPAN-TUBSAT(Lapan A-1)     2007    LEO (
 
2009 Palapa D     31 Agustus 2009   2024, 31 Agustus 2020. 
2009 Indostar II (Cakrawarta II)    16 Mei 2009-2024  
2012 Lippostar-1     2012-2028    124 derajat BT.    Lippo Satelite.
2012 Telkom-3     2012    Gagal     
2013 Lapan A-2                             Juni 2013        
 
2016 BRIsat    18 Juni 2016                                             2031.
2016 Lapan-A3 (Lapan-A3/IPB, LISat). LEO 22 Juni 2016.
 
2017 Telkom 3S        15 Februari 2017-2032
2018 Telkom-4/ Satelit Merah Putih    2018 -2034
2019 Satelit Nusantara-1  (PSN-VI)   2019   146° BT 2034
2020 Satelit Nusantara 2    gagal
2022 Surya Satelit 1    2022
 
2023 Satelit Nusantara-3  (PSN-VII) Satria-1  2023    146° BT 2039
2025 Satelit Nusantara-5        September 2025          2040

1997 Satelit Agilla II   Mabuhay Filipina 2 Transponder diakuisisi PSN  

 

Daftar Satelit Indonesia

1. Satelit Di Orbit 83° BT

1. Palapa A1      1976     83° BT             Perumtel     Delta-2914         Hughes     
 

Peluncuran : 8 Juli 1976. Akhir operasi : Juni 1985.
Pembuat : Hughes (HS-333). Wahana Peluncur : Roket Delta 2914.
Pemilik : Perumtel.
Orbit : 83 derajat bujur timur (BT).
Kapasitas : 12 transponder telepon, 1 transponder televisi, 5 transponder backup, cakupan Indonesia.
Diluncurkan dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat.

 

2. Satelit Di Orbit 77° BT

2. Palapa A2   10 Maret 1977     77° BT     Perumtel     Delta         Hughes

Peluncuran : 11 Maret 1977, Akhir operasi : Januari 1988.
Wahana Peluncur : Roket Delta 2914. Pembuat : Hughes.(HS-333)
Pemilik : Perumtel.
Orbit : 77 derajat bujur timur (BT).
Kapasitas : 12 transponder, backup untuk Palapa-A1.
Diluncurkan dari Kennedy Space Center.

Palapa A2 adalah satelit komunikasi milik Indonesia dan dioperasikan oleh Perumtel. Palapa A2 diluncurkan pada tanggal 10 Maret 1977 dengan roket Delta 2914 dan beroperasi di orbit 77 BT sejak tanggal 11 Maret 1977 hingga bulan Januari 1988, 4 tahun melewati masa operasional yang direncanakan.

Program satelit Palapa A dimulai saat Pemerintah Indonesia memberikan 2 kontrak terpisah pada Boeing Satellite Systems (dahulu dikenal dengan Hughes Space and Communication Inc.) dari Amerika Serikat untuk menyediakan 2 satelit (Palapa A1 dan A2), sebuah stasiun kontrol utama untuk kedua satelit tersebut dan 9 stasiun bumi. Pembangunan 10 stasiun tersebut diselesaikan dalam waktu 17 bulan, salah satu yang tercepat bagi Boeing. 

Pada kontrak terpisah, dibangun total 30 stasiun bumi lainnya untuk dioperasikan oleh Perumtel. Nama Palapa sendiri dipilih oleh Presiden Suharto pada bulan Juli 1975. Satelit Palapa A2 dimaksudkan sebagai cadangan dan siap untuk dioperasikan apabila Palapa A1 mengalami kegagalan, atau jika permintaan pasar tidak dapat lagi diakomodasi oleh Palapa A1. Satelit Palapa ini adalah satelit komunikasi pertama yang beroperasi di Asia, dan yang ketiga di dunia setelah satelit Komunikasi milik Amerika Serikat dan Kanada. 

Bank Dunia sempat mengancam Indonesia, agar menghentikan proyek Satelit yang terbilang sangat mahal saat itu. Menurut Bank Dunia sebagai negara berkembang yang miskin dan terbelakang, Indonesia tidak layak memiliki Teknologi Satelit Komunikasi yang bahkan hanya Amerika Serikat Dan Kanada yang memiliki saat itu. Akan tetapi visi dari Presiden Suharto menantang balik ancaman dari Bank Dunia, dengan alasan utama untuk menjaga Persatuan Seluruh wilayah Indonesia. Terbukti saat peluncuran dan pengoperasian Satelit Indonesia, seluruh negara di Asia berebut menyewa Transponder Satelit Indonesia untuk kepentingan telekomunikasi milik mereka.

SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985 : -
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990 : -                                                                                

3. Satelit Di Orbit 108° BT

3. Palapa B1     18 Juni 1983      108° BT     Perumtel     Challenger    Hughes      
                                
Peluncuran : Juni 1983. Akhir operasi : 1990.
Wahana Peluncur : Challenger F2(STS-7). Pembuat : Hughes (HS-376)
Pemilik : Perumtel.
Orbit : 108 derajat BT.
Kapasitas : 24 transponder, cakupan Asean.
Status : Dijual pada PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) pada 1990.
Diluncurkan menggunakan pesawat ulang-alik. Chalengger

Palapa B-1

Pada tahun 1992 : PSN membeli Satelit Palapa B-1 dari PT Telkom. Satelit Palapa B1 menjadi Satelit komersial non Satelit Internasional Intelsat, pertama di Asia. Satelit Palapa B-1 yang diakuisisi dan dipindahkan oleh PSN (Pasifik Satelit Nusantara) pada tahun 1992 menempati slot orbit geostasioner di 134° BT

4.(25) (4).     Palapa B2     3 Februari 1984 8:00 EST gagal, diambil oleh Sattel Technologiest, diperbaiki dan diluncurkan kembali dengan nama Palapa B2R

5(4)(6). Palapa B2R  1990  108° BT     Perumtel     Delta Hughes                      

Peluncuran : 13/14 April 1990. Akhir operasi : 2000.
Pembuat : Hughes (HS-376). Wahana Peluncur : Delta 6925
Pemilik : Telkom.
Orbit : 108 derajat BT.
Kapasitas : 24 transponder.
Status : Hasil perbaikan B2, nantinya jasanya diganti Telkom-1.
Merupakan Palapa B2 yang diperbaiki oleh Sattel Technologies,

6(5)(11). Telkom-1    1999.    108° BT     Telkom    Ariane IV     Lockheed Martin       

Peluncuran : 12 Agustus 1999, 21:48 UTC. Akhir operasi : -2016, 25 Agustus 2017, Seharusnya 2020.

Pembuat : Lockheed Martin (A2100A). Wahana Peluncur : Ariane
Pemilik : Telkom.
Orbit : 108 derajat BT.
Telkom 1, Mengalami anomali dan kegagalan sistem sebelum berakhir tahun 2020

Sesuai dengan namanya satelit ini adalah milik PT. Telkom Indonesia yang dikembangkan oleh Lockheed Martin Commercial Space System (LMCSS). Satelit Telkom I ini dibuat untuk menggantikan Palapa B2R dengan menggunakan platform A2100A. Satelit ini dilengkapi dengan 24 transponder C-band dan 12 transponder extended C-band yang menunjang aplikasi telekomunikasi, termasuk di dalamnya lalu lintas digital kecepatan tinggi untuk VSAT. Satelit ini juga mampu menjangkau seluruh Indonesia, sebagian Asia Tenggara dan Australia Utara. Satelit Telkom I diluncurkan pada tanggal 12 Agustus 1999 dengan menggunakan roket Ariane IV. Pada awalnya satelit ini digadang-gadang akan bertahan hingga tahun 2020. Namun kenyataannya pada tahun 2017 silam Satelit Telkom I mengalami anomali dan kegagalan sistem yang mengakibatkan siaran televisi, aktivitas perbankan dan VSAT menjadi terganggu

Telkom dinilai perlu memperluas kapasitas satelit karena potensi permintaan dari trunking seluler (permintaan Telkomsel saat itu sedang pesat) dan untuk VSAT internet. Terjadi gangguan pada 25 Agustus 2017 sehingga membuat publik tidak nyaman bertransaksi perbankan dan TV. Layanannya dialihkan ke Telkom-3S, Palapa-D, dan BRI Sat.


7 (6) (13). Telkom-2     2005      108° BT     Telkom       Ariane V    Orbital      


Peluncuran : 16 November 2005. Masih beroperasi. sampai 2020
Pembuat : Orbital Science Corp (Starbus 2). Wahana Peluncur : Ariane V
Pemilik : Telkom.
Orbit : 108 derajat BT.
Kapasitas : 24 transponder.
Diluncurkan dari dari Kourou,Guyana Perancis.

Satelit ini dimiliki oleh PT Telkom yang dibuat oleh Orbital Sciences dengan menggunakan platform Star-2. Satelit menggantikan satelit Palapa B4 yang dilengkapi dengan 24 transponder C-band dan memiliki masa aktif hingga 15 tahun. 

8(11)(7). Palapa B4     1992             118° BT     Telkom      

Delta II-7925         Hughes (HS-376)     
Peluncuran : 14 Mei 1992-7:40 WIB. Akhir operasi : 2005.
 

Satelit Telkom-2 diluncurkan pada tanggal 16 November 2005 di Kourou, Guyana Perancis  menggunakan roket Ariane V. Faktanya Satelit telkom-2 ini ternyata masih terus beroperasi sampai tahun 2021.  Habis masa operasinya pada 26 Desember 2020 dan berhasil dilakukan deorbit pada tanggal 31 Mei 2021 dengan ketinggian lebih dari 300 km di atas orbit Geosinkron. De orbit maksudnya melempar ke luar angkasa di atas Orbit Stabit GSO

Telkom-2 adalah satelit yang diluncurkan Telkom ke angkasa untuk menggantikan satelit Palapa B4. Satelit ini dibawa ke angkasa dengan menggunakan roket Ariane 5 dari Kourou di Guyana Perancis.

Telkom-2 memiliki umur operasi selama 15 tahun dan bernilai sekitar 170 juta dolar AS. Sekitar 70 persen kapasitas transponder Telkom-2 akan disewakan kepada pihak luar. Sementara itu 30 persen kapasitas yang akan digunakan sendiri oleh Telkom, satelit buatan Orbital Sciences Corporation ini diharapkan akan mendukung sistem komunikasi transmisi backbone yang meliputi layanan telekomunikasi sambungan langsung jarak jauh (SLJJ), sambungan langsung internasional (SLI), internet, dan jaringan komunikasi untuk kepentingan militer.

Satelit ini akan beredar di orbit 118° BT dengan kapasitas 24 transponder C-band dan berbobot 1.975 kg. Daya jangkaunya mencapai seluruh ASEAN, India dan Guam. Posisinya menggantikan Palapa-B4 dengan perluasan cakupan ke Guam dan India. Berfungsi menyediakan layanan TV, telepon, internet, di Indonesia, Asia Tenggara, dan Asia Selatan.

Ini dia satelit penerus Telkom 1 yang kemudian akan digantikan oleh satelit Telkom 3S yang baru saja diluncurkan Telkom Indonesia di Guyana Prancis. Telkom 2 diluncurkan pada 16 November 2005.

Telkom 2 dirakit oleh Orbital ATK Inc. dengan model GEOStar-2. Satelit ini membawa 24 C-Band transponder untuk menyediakan layanan TV, telepon dan Internet wilayah Indonesia, Asia Tenggara, dan Asia Selatan sekitar India.

Satelit kemudian diterbangkan menggunakan roket Ariane 5 ECA dengan Guiana Space Center sebagai lokasi peluncurannya. Telkom 2 mengorbit pada ketinggian 35.888 kilometer di atas Bumi, tepatnya di 118 bujur timur.

Telkom 2 yang memiliki bobot 1.930 kilogram diproyeksi dapat terus beroperasi selama 15 tahun sejak peluncuran. Itu berarti satelit masih memiliki kurang lebih 3 tahun lagi umur masa orbitnya.

Peluncuran penerus Telkom 1 ini sempat mengalami penundaan sebanyak dua kali.
 

9(7) (30). Telkom-4/ Satelit Merah Putih    2018     108° BT     Telkom             

Space System Loral.             Falcon 9, SpaceX.             

Peluncuran : 7 Agustus 2018-2034. Masih beroperasi sampai sekarang (2026)
Pembuat : Space System Loral. Wahana Peluncur : Falcon 9, SpaceX.
Pemilik : Telkom.
Orbit : 108 derajat BT.
Kapasitas : 60 transponder, terdiri dari 24 transponder C-Band dan 12 transponder Exetended C-Band.

Satelit dirancang oleh Space System Loral dari Amerika, dibuat untuk menggantikan Satelit Telkom-1. Satelit ini dibuat dengan platform SSL-1300 dan dilengkapi 60 transponder C-band dengan rincian 36 transponder disewakan untuk keperluan domestik dan 24 sisanya akan dipasarkan di India. 

Satelit ini didesain menggunakan teknologi broadband satelit yang mampu memancarkan akses dengan kapasitas dua kali lipat dari satelit pendahulunya.  Dengan memiliki masa aktif 15 tahun satelit ini akan menjangkau ASEAN dan India. Tujuan pembuatan satelit ini untuk menopang kemajuan industri nasional, melancarkan konektivitas di tanah air, serta mempermudah dan memperluas akses komunikasi di Indonesia. Satelit Merah Putih diluncurkan pada tanggal 7 Agustus 2018 dari SpaceX Cape Canaveral, Air Force Station, Florida, Amerika Serikat.

SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : 2034 : masih beroperasi Satelit Telkom-4 
                                                                      atau Satelit Merah Putih (2026)  



 

SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987)
 

10 (8) (5). Palapa B2P     21 Maret 1987    113° BT     Perumtel-Satelindo     Delta 6925     Hughes (HS-376)             

Peluncuran : 21 Maret 1987. Akhir operasi : Februari 1996.
Pembuat : Hughes (HS-376). Wahana Peluncur : Delta.Delta 6925     
Pemilik : PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), Satelindo.
Orbit : 113 derajat BT.
Kapasitas : 24 transponder.
Status : Penyewaan pihak ketiga domestik dan luar negeri, beralih ke Satelindo pada 1993 dan kemudian layanannya diganti Palapa-C1.

Satelit Palapa B2P adalah satelit yang mengitari orbit geosynchronous dan bergerak dari barat ke timur dengan kecepatan yang sama dengan rotasi Bumi. Satelit ini terletak pada ketinggian 36.000km diatas khatulistiwa pada lokasi 113°BT dan dikendalikan oleh stasiun yang terletak di Bumi tepatnya di daerah Cibinong. Satelit Palapa merupakan satelit relay bagi stasiun bumi yang selanjutnya memancarkan kembali siaran ke televisi dengan transponder Palapa yang bekerja pada frekuensi 6 gigahertz dengan kekuatan pancar 10 watt.

Satelit Palapa B2P yang sesungguhnya dibuat untuk keperluan domestik serta ditujukan untuk disewakan ke mancanegara ternyata mampu menjaring bisnis yang sangat baik, dan karenanya Palapa B2P menjadi satelit rebutan. Para penyelenggara penyiaran (CNN, ESPN) menggunakan Palapa B2P, sehingga masyarakat yang berada dalam area cakupan Palapa B4 dapat menerima program-progam mereka.

 

26 (8).     Palapa C1     31 Januari 1996-1999     113° BT  Gagal 

9.     Palapa C2     15 Mei 1996                             113° BT Satelindo-Indosat         Ariane-44L H10-3.     Hughes (HS-601)     

Peluncuran : 15 Mei 1996. Akhir operasi : 2011.
Pembuat : Hughes (HS-601). Wahana Peluncur : Ariane-44L H10-3.
Pemilik : Telkom.
Orbit : derajat BT.
Kapasitas : 12 transponder.
Diluncurkan dari Kourou, Guyana Perancis.

1996 : PSN (bersama Satelindo) membeli Satelit Palapa C1 (*2) dan Satelit Palapa C2 (*3).
 Satelit Palapa C1 diluncurkan dari Cape Canaveral, USA, dan Satelit Palapa C2 diluncurkan dari Kouru, French Guiana. PSN memiliki 12 extended C- band  transponders di setiap Satelit

           2009 : 105,5°BT

                                                                                                    
Orbit akan dipindahkan ke 105,5° BT karena 113° BT akan ditempati Palapa D.

Satelit Palapa C2 adalah satelit komunikasi kedua dalam generasi Palapa C yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Palapa C2 diproduksi oleh Hughes (Amerika Serikat, AS) dan diluncurkan pada tanggal 15 Mei 1996 di Kourou, Guyana Perancis (Ko ELA-2), menggunakan roket Ariane-44L H10-3. Satelit ini beroperasi pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT di ketinggian 36.000 km di atas permukaan bumi. Operasional satelit ini berpindah tangan ke PT. Indosat Tbk. akibat penggabungan Satelindo dengan Indosat. Demi memberi tempat bagi Satelit Palapa D, rencananya orbit satelit ini dipindah ke 105,5° BT.


10 (17). Palapa D     31 Agustus 2009          113° BT Indosat                            Long March 3B     Thales Alenia Space      

Peluncuran : 31 Agustus 2009.16:28 WIB. Akhir operasi : 2024, Tapi Satelit keluar Orbit dan hanya beroperasi 10 tahun saja dan berhenti beroperasi pada 31 Agustus 2020. Pembuat : Thales Alenia Space (Spacebus-4000B3). Wahana Peluncur : Long March 3B.
Pemilik : Indosat Ooredoo.
Orbit : 113 derajat BT.
Kapasitas : 40 transponder.
Keluar orbit dan hanya beroperasi 10 tahun.

Satelit yang diluncurkan pada Agustus 2009 ini telah resmi berakhir masa operasionalnya pada 31 Agustus 2020 lalu. Setelah menyelesaikan masa tugasnya dan kehabisan bahan bakar, satelit ini dinonaktifkan (di-deorbit) dan meninggalkan slot orbitnya di 113 derajat Bujur Timur.
Diluncurkan dari Xichang Satellite Launch Center (XSLC), Cina.Menggeser orbit Palapa C2 dari 113° BT ke 105,5° BT.

Satelit Palapa D merupakan satelit yang dimiliki oleh PT. Indosat Ooredoo dan dibuat oleh Thales Alenia Space dari Perancis. Satelit ini dibuat untuk menggantikan Satelit Palapa C dengan masa aktif hingga 15 tahun. Satelit ini memakai platform SpaceBus 4000-B3 dan dilengkapi dengan 35 transponder C-band serta 5 transponder Ku-band yang mampu menjangkau benua Asia dan seluruh Indonesia. Satelit Palapa D diluncurkan pada tanggal 31 Agustus 2009 dengan menggunakan wahana Long March 3B dari Xichang Satellite Launch Center, China.

Satelit Palapa D (kode internasional = 2009-046A) adalah satelit komunikasi Indonesia yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Indosat Tbk dan diluncurkan pada tanggal 31 Agustus 2009 pukul 16:28 WIB di Xichang Satellite Launch Center (XSLC) menggunakan roket Long March (Chang Zheng) 3B. Satelit ini dibuat oleh Thales Alenia Space, Perancis, dan dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa C2 pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT yang akan selesai masa operasionalnya pada tahun 2011.

Palapa D dipesan[1] pada tanggal 29 Juni 2007 oleh perusahaan Indonesia PT Indosat Tbk, kepada Thales Alenia Space. Itu adalah Spacebus 4000B3 yang akan dibuat di Pusat Luar Angkasa Cannes Mandelieu.
Palapa D

Palapa D atau bisa disebut dengan Palada D1 merupakan satelit komunikasi geostationer yang dioperasikan oleh Indosat. Ini merupakan satelit pengganti dari Palapa C2 yang sebelumnya mengorbit lebih dulu.

Indosat menunjuk Thales Alenia Space sebagai perakit satelit Palapa D, dengan dasar menggunakan platform tipe Spacebus-4000B3. Satelit memiliki bobot 4.100 kilogram dan daya elektrik mencakup 6 kilo watt.

Satelit dibawa ke luar angkasa dengan roket Long March CZ-3B di area peluncuran milik Xichang Satellite Launch Center yang berlokasi di China pada 31 Agustus 2009.

Palapa D membawa kapasitas total 40 transponder yang di antaranya terdiri dari 24 standar C-Band, 11 extended C-Band serta 5 Ku-Band. Transponder tersebut sanggup mencapai wilayah Indonesia, Asean, Asia Pasifik, Timur Tengah dan Australia.

Beberapa jam setelah peluncuran, roket yang membawa satelit Palapa D mengalami gangguan sehingga satelit sempat keluar dari posisi orbit yang seharusnya yaitu 113 bujur timur. Kondisi tersebut membuat umur satelit berkurang menjadi 10 tahun, dari yang sebelumnya ditargetkan 15 tahun.

19 (28). Satelit Nusantara-5        September 2025          113° BT
2040
2026 : PSN kembali meluncurkan Satelit Nusantara-5 (*11)
Lokasi Orbit: Berada di slot orbit strategis di 113 derajat Bujur Timur atau dikenal sebagai Golden Spot
Satelit Nusantara Lima (N5) adalah satelit komunikasi geostasioner berkapasitas terbesar di Asia dengan kapasitas 160 Gbps yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) bersama konsorsiumnya. Menggunakan teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS), satelit ini sukses meluncur pada September 2025 lalu dan resmi beroperasi untuk memperluas konektivitas internet di wilayah Indonesia serta kawasan ASEAN


SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)


SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992)

11(7). Palapa B4     14 Mei 1992             118° BT     Telkom                Delta II-7925         Hughes (HS-376)     

Peluncuran : 14 Mei 1992-7:40 WIB. Akhir operasi : 2005.
Pembuat : Hughes (HS-376) Wahana Peluncur : Delta II-7925
Pemilik : Telkom.
Orbit : 118 derajat BT.
Kapasitas : 24 transponder.Status : -.
Diluncurkan dari Kennedy Space Center.


12 (20). Telkom 3S        15 Februari 2017                      118° BT   Telkom                Thales Ariane 5 ECA VA235 Arianespace               

Peluncuran : 15 Februari 2017. Akhir operasi : -.
Pembuat : Thales Alenia Space. Thales Ariane 5 ECA VA235 Arianespace  Wahana Peluncur : Ariane.
Pemilik : Telkom.
Orbit : 118 derajat BT.
Kapasitas : 42 transponder.

Guyana Space Center, Kourou, Guyana Prancis

Perlu dicatat bahwa Telkom telah meluncurkan satelit pengganti bernama Telkom-3S. Telkom-3S menempati slot orbit geostasioner pada garis bujur 118° Bujur Timur (tepat di atas wilayah Indonesia/Kalimantan/Sulawesi) pada ketinggian 35.786 km. Satelit Telkom 3S berada di orbit geostasioner pada slot 118 derajat Bujur Timur (BT). Posisinya secara geografis berada di ketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas garis khatulistiwa, tepat di atas Pulau Kalimantan / Selat Makassar. Tanggal Peluncuran: 15 Februari 2017Waktu Peluncuran: Pukul 04.39 WIBLokasi Peluncuran: Guyana Space Center, Kourou, Guyana PrancisRoket Peluncur: Ariane 5 ECA VA235 milik ArianespacePosisi Orbit: 118° Bujur Timur (Geostasioner)

Satelit ini dibuat untuk menggantikan satelit Telkom-3 yang mengalami kegagalan mencapai orbit. Kali ini PT Telkom mengandeng Thales Alenia Space dalam pembuatannya. Satelit ini menggunakan platform Spacebus-400B2 yang merupakan platform generasi baru. Selain itu satelit ini dilengkapi dengan 24 transponder C-band, 8 transponder extended C-band dan 10 transponder Ku-band yang mampu menjangkau Indonesia serta Asia Tenggara. Satelit diluncurkan pada tanggal 15 Februari 2015 menggunakan roket Ariane 5 ECA dari Kourou Guyana Perancis.

Diluncurkan guna menggantikan Telkom-3 yang gagal mencapai orbit dan hilang.atau Satelit Merah Putih

SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)
SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-S (2026)



SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997)

 
13 (10)     Indostar I (Cakrawarta I) 12 November 1997        107,7° BT[9]     Indovision   Ariane-44L   OSC, Orbital Science       
                  
Peluncuran : 12 November 1997 Akhir operasi : 2004 sebelumnya 2011. dari 14 tahun jadi 7 tahun (2004)
Pembuat : Hughes H10-3[10], CTA -> Orbital Sciences Corporation (OSC)(Star-1) H10-3[10].  Wahana Peluncur : Ariane
Pemilik : PT Media Citra Indostar (Grup MNC), Grup Indika.
Orbit : 107,7 derajat BT.

Diluncurkan dari dari      Kourou, Guyana Perancis.

Satelit Cakrawarta I/ Indostar I merupakan satelit yang diluncurkan Indonesia setelah Satelit Palapa. Satelit ini dikembangkan oleh Orbital Science Corporation dengan masa pakai mencapai 14 tahun. Perusahaan pemilik Satelit Cakrawarta I/ Indostar I adalah PT. Media Citra Indostar (PT. MCI) yang merupakan anak perusahaan dari MNC Group. Satelit ini dipakai untuk penyiaran DTH (Direct To Home) Indovision dan merupakan satelit penyiaran DTH pertama di Asia. Satelit ini diluncurkan pada tanggal 12 November 1997 di Kourou, Guyana Prancis menggunakan roket Ariane. Frekuensi S-band dipilih pada Satelit Cakrawarta I/ Indostar ini mengingat frekuensi ini tahan terhadap cuaca di Indonesia yang beriklim tropis. Namun sayangnya, pada tahun 1998 terjadi anomali pada regulator daya listrik Satelit Cakrawarta I/ Indostar I sehingga mengakibatkan 2 transponder satelit lumpuh saat memasuki gerhana.

Satelit pertama yang menggunakan frekuensi S-band terutama untuk TV kabel. Karena kegagalan regulator daya, sebanyak dua dari lima transponder tidak dapat digunakan saat gerhana sehingga umur satelit berkurang dari 14 tahun menjadi 7 tahun.

14 (16) Indostar II (Cakrawarta II)    16 Mei 2009,      107,7° BT     Indovision     Proton-M Briz-M     Boeing (BSS-601HP)     
                                                       2010 : SES7

Peluncuran : 16 Mei 2009 7:58 WIB. Akhir operasi : 2024.
Pembuat : Boeing Satelite Systems (BSS). Wahana Peluncur : Proton M
Pemilik : Protostar.
Orbit : 107,7 derajat BT.
Kapasitas : 22 transponder Ku-Band dan 10 transponder S-Band.

Diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome (LC-200/39), Kazakhstan.[15][16]The Indostar 2 / ProtoStar 2 was launched in 2009. In Late 2009 the satellite was sold in an auction to SES after the ProtoStar venture succumbed to multiple frequency-coordination issues. The satellite was renamed SES 7in May 2010.The spacecraft was originally built as Galaxy 8iR, which was cancelled in 2004. For use as ProtoStar 2 the payload was modified to contain 10 S-band transponders, which will act as a replacement for the Indostar 1 satellite. The S-band payload is operated under the name of Indostar 2 (Cakrawarta 2).

Satelit ini dibuat untuk menggantikan Satelit Cakrawarta I/ Indostar I yang masa pakainya sudah berakhir. PT. MCI  menunjuk Boeing Satellite System dalam pembuatan satelit tersebut. Satelit Cakrawarta II/ Indostar II menggunakan platform 3 aksis BSS-601HP yang memiliki kapasitas mencapai 10 transponder S-band dan dapat menjangkau seluruh nusantara. Satelit ini diluncurkan pada tanggal 16 Mei 2009 dengan memakai wahana Proton-M Briz-M dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.

Indostar II atau Cakrawarta II adalah satelit yang diluncurkan oleh PT Media Citra Indostar (MCI) yang mengelola dan mengoperasionalisasi satelit Indovision. Satelit ini diluncurkan dengan menggunakan roket peluncur Proton Breeze milik Rusia dan lepas landas melalui Baikonur Cosmodome di Kazahkstan. Peluncuran satelit Indostar II ini telah berlangsung pada tanggal 16 Mei 2009.

Memberikan layanan penyediaan direct to home (DTH). Akhir 2009, Protostar ditutup karena isu kordinasi multi frekuensi.
Dilelang kepada SES dan berganti nama menjadi SES-7. Diluncurkan di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.

Setelah habis masa orbit satelit Indostar I, MNC Sky Vision meluncurkan satelit penerusnya bernama Indostar II atau Cakrawarta II. Satelit ini diluncurkan pada Mei 2009 lalu di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.
Satelit ini dirakit oleh Boeing Satellite System asal Amerika Serikat dalam waktu 20 bulan. Indostar II kemudian diterbangkan melalui roket Proton Breeze M produksi Khrunichev State Research and Production Space Center asal Rusia.

Satelit tipe BS 601 HP memiliki dimensi 4 x 3,6 x 2,7 meter dan bobot sekitar 3.905 kilogram, serta mengorbit di 107 bujur timur. Masa aktif Indostar II mampu mencapai 15 tahun lebih.

Indostar II membawa 22 transponder Ku-Band dan 10 transponder S-Band untuk memberikan jaringan penyiaran DTH (direct-to-home) yang kuat dan jasa telekomunikasi lain seperti Internet broadband yang mencakup wilayah Asia Pasik.

Sekarang, satelit ini dioperasikan oleh SES World Skies asal Belanda, setelah ProtoStar melepas peran operator lewat jalur lelang. Hal ini berimbas pada pergantian nama dari Indostar II menjadi SES-7.


SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)
SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-S (2026)
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024


SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000)
 

15 (12).     Garuda-1   12 Februari 2000               123° BT     Asia Cellular Satellite (ACeS)     Proton K Blok-DM3     Lockheed MartinA2100AXX     
                                                                                    
Peluncuran : 12 Februari 2000. Akhir operasi : 2015.
Pembuat : Lockheed Martin. Wahaba Peluncur : Proton K.
Pemilik : ACES PSN
Orbit : 123 derajat BT.
Kapasitas : transponder.

ACeS adalah patungan PSN dan perusahaan asing.[14] Diluncurkan dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.

Satelit Garuda I didirikan oleh Asia Cellular Satellite (ACeS). Perusahaan ini merupakan gabungan dari beberapa perusahaan yaitu Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Lockheed Martin Global Telecommunications (LMGT), Philippines Long Distance Telephone Company (PLDT) dan Jasmine International Overseas Company Ltd. Satelit ini dikembangkan oleh Lockheed Martin Commercial Space System (LMCSS) dengan menggunakan platform A2100AXX dan beroperasi pada frekuensi L-band via 140 spotbeam. Selain itu, satelin ini mampu menjangkau seluruh Asia dengan menawarkan layanan telepon bergerak berbasis satelit. Satelit ini diluncurkan pada tanggal 12 Februari 2000 dengan wahana luncur Proton K Blok-DM3. Satelit Garuda I ini ternyata disebut-sebut sebagai salah satu satelit telekomunikasi paling kuat yang pernah diluncurkan.

Satelit pertama yang melayani komunikasi telepon bergerak di Asia berbasis ACeS. Sistem AceS dimiliki AceS International yang dimiliki PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Lockheed Martin Global Telecommunications, Phillipine Long Distance Telephone Co, dan Jasmine Overseas Company.

Terdapat anomali di sistem L-Band Garuda-1 yang menyebabkan kapasitas panggilan maksimal turun menjadi 1,4 juta per hari dari 2 juta per hari, diklaim AceS kepada asuransi.

2 Juli 2018
Kemenkominfo Buka Peluang Swasta

Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kementerian Kominfo Ismail mengatakan bila pemanfaatan satelit milik Kementerian Pertahanan tidak dilanjutkan, pihaknya telah menyiapkan opsi pengganti.

Kementerian Pertahanan selama ini menggunakan satelit Artemis milik Avanti di slot orbit 123 derajat Bujur Timur. Namun, Avanti menghentikan operasi satelit Artemis karena permasalahan sewa menyewa dengan Kementerian Pertahanan.

Ismail menjelaskan pada orbit tersebut haras tetap ada satelit yang beroperasi meskipun di bawah pengelolaan pihak lain.

"Kalau kami sih cuma diminta untuk menyiapkan opsi-opsi. Opsi-opsi kalau misalnya Kemenhan tidak melanjutkan pemanfaatannya. Ya ditawarkan. Operator satelit yang ada, yang berminat," ujarnya belum lama ini.

Menurutnya, pemerintah akan membuat beauty contest untuk memilih operator satelit yang berminat mengelola satelit tersebut.

Dalam laman resmi Avanti Communications Limited, atas gugatan tersebut, Kementerian Pertahanan harus membayar US$20,1 juta hingga 31 Juli 2018.

Gugatan perusahaan itu telah dilayangkan ke Pengadilan Internasional London sejak Agustus 2017. Penyebabnya, kegagalan pembayaran sewa satelit Artemis milik Avanti.

Kementerian Pertahanan menyewa Satelit Artemis untuk menggantikan peran satelit Garuda-1 yang telah mengorbit sejak 2000 di slot orbit 123 Bujur Timur.

Kendati demikian, dari total kontrak US$30 juta, masih menyisakan US$16,8 juta biaya yang perlu dibayar. Belum selesainya pembayaran tersebut membuat Avanti membawa masalah ini ke ranah hukum.

"Orbitnya tetap cuma pengelolaannya saja. Cuma yang tadinya dikelola kemhan mungkin nanti dikelola pihak lain. Ada proses apa semacam itu (beauty contest)," kata Ismail.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Rudiantara sebelumnya menegaskan bahwa sengketa kegagalan pembayaran satelit Artemis milik Avanti tidak akan berpengaruh terhadap kepemilikan Indonesia atas slot orbit 123 bujur timur.

Kehilangan kepemilikan baru terjadi jika slot tersebut tidak diisi oleh satelit yang dikendalikan oleh Indonesia, baik milik sendiri maupun satelit sewaan.

"Kasus Avanti adalah kasus sewa menyewa. Kita bisa kehilangan slot apablia slot tersebut tidak diisi oleh satelit yang dikontrol oleh kita," kata Rudiantara ,
sumber  Berita : Bisnis Indonesia

SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)
SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-S (2026)
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015

SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992)
3.     Palapa B1     1992                  134° BT         PSN      

Pada tahun 1992 : PSN membeli Satelit Palapa B-1 dari PT Telkom. Satelit Palapa B1 menjadi Satelit komersial non Satelit Internasional Intelsat, pertama di Asia. Satelit Palapa B-1 yang diakuisisi dan dipindahkan oleh PSN (Pasifik Satelit Nusantara) pada tahun 1992 menempati slot orbit geostasioner di 134° BT
Satelit Palapa B1 sudah tidak beroperasi. Satelit yang diluncurkan pada 18 Juni 1983 ini masa operasionalnya telah berakhir dan dinonaktifkan pada Oktober 1995


SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)
SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-S (2026)
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015
SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992) : 1995


SATELIT DI ORBIT 105,5° BT (2009)
9.     Palapa C2     2009 15 Mei 1996                        105,5° BT.     113° BT Satelindo-Indosat         Ariane-44L H10-3.     Hughes (HS-601)     

Peluncuran : 15 Mei 1996. Akhir operasi : 2011. Extended Version :   2009-2016
Pembuat : Hughes (HS-601). Wahana Peluncur : Ariane-44L H10-3.
Pemilik : Telkom.
Orbit : derajat BT.
Kapasitas : 12 transponder.
Diluncurkan dari Kourou, Guyana Perancis.

1996 : PSN (bersama Satelindo) membeli Satelit Palapa C1 (*2) dan Satelit Palapa C2 (*3).
 Satelit Palapa C1 diluncurkan dari Cape Canaveral, USA, dan Satelit Palapa C2 diluncurkan dari Kouru, French Guiana. PSN memiliki 12 extended C- band  transponders di setiap Satelit

                                                                                     2009 : 105,5° BT.                                                                                                     [6] Orbit akan dipindahkan
                                                                                                                                                                                                                    ke 105,5° BT
                                                                                                                                                                                                                karena 113° BT akan ditempati
                                                                                                                                                                                                                Palapa D.[8]
                                                                                    2014 Digeser ke 146
Akhir Masa Operasi: Satelit ini resmi berhenti beroperasi pada tahun 2016, setelah mengudara lebih dari 20 tahun (melampaui target masa pakai desainnya yang hanya 15 tahun)

SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)
SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : yang masih beroperasi Satelit Telkom-S (2026)
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015
SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992) : 1995
SATELIT DI ORBIT 105,5° BT (2009) : 2016

SATELIT DI ORBIT 150,5° BT (2016)
16 (21). BRIsat    18 Juni 2016                                            150,5° BT            BRI        Roket Ariane 5

Peluncuran : 19 Juni 2016. Akhir operasi : 2031.
Pembuat : Space System Loral.
Peluncur : Ariane.
Pemilik : PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Orbit : 150,5 derajat BT.

Guyana Space Center di Kourou, Guyana Prancis.
milik BRI (Bank Rakyat Indonesia) meluncur ke orbit pada 18 Juni 2016. Satelit ini menempati slot orbit geostasioner pada 150,5° BT (Bujur Timur), tepatnya sekitar 36.000 km di atas ekuator bumi. Lokasi Peluncuran: Guyana Space Center di Kourou, Guyana Prancis.Kendaraan Peluncur: Roket Ariane 5.Status Unik: BRIsat mencetak sejarah sebagai satelit pertama di dunia yang dimiliki dan dioperasikan oleh sebuah bank.

BRI adalah bank pertama yang mempunyai satelit dan menggunakannya untuk meningkatkan layanan perbankan. Satelit ini dibuat menggunakan platform SSL 1300 dan dilengkapi dengan 36 transponder C-band serta 9 transponder Ku-band. Satelit ini diluncurkan pada tanggal 19 Juni 2016 dengan roket Ariane 5 ECA dari Kourou, Guyana Perancis.

Menjadi satu-satunya satelit di dunia yang dimiliki bank.

Perusahaan yang bergerak di sektor perbankan, Bank Rakyat Indonesia atau BRI, mencetak sejarah baru pada pertengahan 2016 lalu. Kala itu mereka jadi perusahaan bank pertama di dunia yang meluncurkan dan mengoperasikan satelit, yang kelak diberi nama BRISat.

Satelit BRISat yang berbobot 3.500 kilogram ini diproduksi oleh Space Systems/Loral (SSL), dengan peluncurannya difasilitasi oleh Arianespace melalui roket Ariane 5 ECA yang diluncurkan di Guiana Space Center, Guyana Prancis.

Satelit model LS-1300 ini membawa 9 transponder Ku-Band dan 36 C-Band transponder. Semuanya itu digunakan untuk memberikan peningkatan keamanan komunikasi perbankan untuk lebih dari 10.600 cabang operasional, serta 237.000 saluran outlet elektronik dan 53 juta pelanggan di seluruh Tanah Air.

BRISat yang mengorbit di slot orbit 150 bujur timur ini diklaim memiliki masa hidup selama 15 tahun lebih untuk melayani kebutuhan BRI dalam melakukan operasional perbankan.



SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : 2034 : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)
SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : 2032 : yang masih beroperasi Satelit Telkom-3S (2026)
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015
SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992) : 1995
SATELIT DI ORBIT 105,5° BT (2009) : 2016
SATELIT DI ORBIT 150,5° BT (2016) : 2031 : (yang masih beroperasi BRI Sat) (2026)


SATELIT DI ORBIT (2014) : 146° BT
17(x)(23). Satelit PSN VR  2014    146° BT
2015 PSN bersama Indosat meluncurkan Satelit PSN VR (*6) di slot orbit 146° East

Januari 2013, satelit Chinasat-5B yang beroperasi pada slot orbit 146BT itu, mengalami kerusakan pada salah satu solar panel, karena itu harus dideorbit.
Tahun 2014, PSN menyewa satelit untuk operasional di slot orbit 146BT. Satelit tersebut dikenal sebagai satelit PSN VR (satelit Palapa C2).
November tahun 2016 dengan satelit PSN VR2 (satelit Asiasat-3S),
beroperasinya satelit PSN VR2 di bulan November 2016 dan bbiu frekuensi filing PALAPA PAC-C 146E dapat diperpanjang hingga beroperasinya satelit PSN VI di bulan Juni 2019.

9.     Palapa C2     2009 15 Mei 1996                        105,5° BT.     113° BT Satelindo-Indosat         Ariane-44L H10-3.     Hughes (HS-601)     

Peluncuran : 15 Mei 1996. Akhir operasi : 2011. Extended Version :   2009-2016
Pembuat : Hughes (HS-601). Wahana Peluncur : Ariane-44L H10-3.
Pemilik : Telkom.
Orbit : derajat BT.
Kapasitas : 12 transponder.
Diluncurkan dari Kourou, Guyana Perancis.

1996 : PSN (bersama Satelindo) membeli Satelit Palapa C1 (*2) dan Satelit Palapa C2 (*3).
 Satelit Palapa C1 diluncurkan dari Cape Canaveral, USA, dan Satelit Palapa C2 diluncurkan dari Kouru, French Guiana. PSN memiliki 12 extended C- band  transponders di setiap Satelit

                                                                                     2009 : 105,5° BT.                                                                                                     [6] Orbit akan dipindahkan
                                                                                                                                                                                                                    ke 105,5° BT
                                                                                                                                                                                                                karena 113° BT akan ditempati
                                                                                                                                                                                                                Palapa D.[8]
                                                                                    2014 Digeser ke 146° BT
Akhir Masa Operasi: Satelit ini resmi berhenti beroperasi pada tahun 2016, setelah mengudara lebih dari 20 tahun (melampaui target masa pakai desainnya yang hanya 15 tahun)



Penyelamatan Filing Satelit Palapa PAC-C 146E dan Palapa PAC-KU 146E
110/HM/KOMINFO/08/2017

Jakarta – International Telecommunication Union (ITU) menyetujui permohonan ekstensi filing satelit PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E yang diajukan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemKominfo). Dengan demikian frekuensi yang ada pada filing PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E bisa beroperasi.

Sebagaimana diketahui Kominfo telah mengajukan ijin ke Radio Regulation Board (RRB) pada 17 – 21 Juli 2017. Pengajuan ijin dilakukan setelah ITU, pada bulan November 2016 menyatakan frekuensi 6665 – 6723MHz dan 12523 – 12679 MHz belum di-bringing back into use (bbiu), dan selanjutnya akan dihapus.

Kementerian Kominfo menyatakan keberatan. KemKominfo meminta ITU untuk tidak melakukan tindakan apapun. Selanjutnya, Kemkominfo bermaksud meminta ekstensi masa suspensi filing PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E.

Latar Belakang

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) mengelola filing PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E di slot orbit 146BT. Pada Januari 2013, satelit Chinasat-5B yang beroperasi pada slot orbit 146BT itu, mengalami kerusakan pada salah satu solar panel, karena itu harus dideorbit.

Selanjutnya, Kementerian Kominfo mendaftarkan permohonan suspensi filing satelit tersebut ke ITU dari Januari 2013 hingga Januari 2016. Seiring dengan itu, pada Desember 2014, PSN menempatkan satelit floater (Palapa C2) yang dikenal sebagai satelit PSN VR di slot orbit 146BT. Satelit ini untuk mem-bringing back into use (bbiu) filing PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E di slot orbit 146BT.

Hanya saja, frekuensi onboard satelit PSN VR tidak mengcover semua frekuensi filing PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E. Adanya ketidaksesuaian frekuensi tersebut, menyebabkan ITU menyatakan keberatan. ITU menanyakan kelanjutan penggunaan frekuensi yang tidak terdapat pada satelit Palapa C2 yaitu frekuensi 6665 – 6723MHz dan 12523 – 12679 MHz.

Terkait hal itu, Kementerian Kominfo menyatakan bahwa frekuensi tersebut akan di-bbiu sebelum berakhirnya masa suspensi filing berakhir di bulan Januari 2016. Namun ITU kembali mengingatkan, bahwa Januari 2016 merupakan batas waktu suspensi filing PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E. Melalui website, ITU bahkan mempublikasikan kode TOTAL. Artinya, seluruh frekuensi filing PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E telah dibbiu dan diterima oleh ITU.

Pada sisi yang lain, Kementerian Kominfo pun telah mengingatkan PSN untuk mem-bbiu frekuensi yang belum di bringing back into use (bbiu) oleh satelit PSN VR. Menurut PSN, pihaknya telah berusaha mencari satelit yang dapat membbiu frekuensi tersebut. Hanya saja, sampai tenggat waktu yang ditetapkan ITU, PSN belum mendapatkan satelit yang sesuai.

Proposal Kominfo

Terkait pembuatan proposal ke RRB, Kemkominfo melakukan 4 kali rapat persiapan; 3 kali rapat bersama antara Direktorat Penataan Sumber Daya dengan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dan 1 kali rapat pleno antara PT Pasifik Satelit Nusantara, Kementerian Luar Negeri, Pusat Kelembagaan Internasional Kemkominfo dan Ditjen SDPPI.

Berikut poin penting proposal yang diajukan ke RRB:

    Sebagai negara kepulauan, Indonesia mememerlukan satelit untuk menunjang komunikasi di daerah-daerah yang sulit terjangkau oleh terrestrial;

    Filing PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E telah beroperasi sejak tahun 1999

    Kerusakan satelit yang terjadi di tahun 2013 adalah karena force majeure. Padahal satelit tersebut masih dapat beroperasi hingga tahun 2016;

    PSN sebagai operator satelit telah berusaha untuk pengadaan satelit baru, satelit PSN VI. Untuk itu, pada Desember 2013, PSN menandatangani kontrak dengan manufaktur satelit Boeing. Namun kontrak tersebut harus berakhir di tahun berikutnya karena ketidakmampuan Boeing mendapatkan co-passenger;

    Tahun 2014, PSN menyewa satelit untuk operasional di slot orbit 146BT. Satelit tersebut dikenal sebagai satelit PSN VR (satelit Palapa C2). Namun satelit tersebut tidak mengcover semua frekuensi PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E, sehingga PSN berusaha mencari satelit yang dapat mengcover semua frekuensi. Pada saat yang sama, PSN melakukan kontrak baru dengan SS/L untuk pengadaan satelit PSN VI;

    Pencarian satelit pengganti PSN VR baru dapat terlaksana pada November tahun 2016 dengan satelit PSN VR2 (satelit Asiasat-3S), namun frekuensi yang tercover hanya semua frekuensi pada filing PALAPA PAC-KU 146E namun tidak semua frekuensi pada filing PALAPA PAC-C 146E;

    Awal kontrak pengadaan satelit PSN VI dengan SS/L PSN mendapat pinjaman dari Bank US Ex-Im. Namun di tahun 2015 terjadi perubahan kebijakan di Amerika. Kala itu kongres memutuskan Bank Ex-Im tidak diperbolehkan mengeluarkan dana pinjaman baru untuk negara lain, sehingga pinjaman dari PSN tersebut pun tidak dilanjutkan. PSN kemudian berusaha untuk mencari pinjaman dari Bank Asing lainnya, sampai akhirnya mendapatkan pinjaman dari Bank Export Development Canada (EDC);

    Adanya perubahan pinjaman dari Bank Ex-Im ke Bank EDC, maka proyek satelit PSN VI sempat tertunda. Satelit baru kembali berjalan di bulan Mei 2017 dengan masa penyelesaian pembuatan satelit selama 19 bulan. Satelit PSN VI dijadwalkan dapat meluncur di bulan Desember 2018, dan perkiraan operasional di slot orbit 146BT pada Juni 2019.

    Permohonan ke RRB agar bbiu frekuensi Ku band filing PALAPA PAC-KU 146E dapat diperpanjang hingga beroperasinya satelit PSN VR2 di bulan November 2016 dan bbiu frekuensi filing PALAPA PAC-C 146E dapat diperpanjang hingga beroperasinya satelit PSN VI di bulan Juni 2019.

Sidang RRB

Pada tanggal 13 Juli 2017 sebelum pelaksanaan sidang RRB, Kementerian Kominfo yang terdiri dari Dirjen SDPPI, Kepala Pusat Kelembagaan Internasional. Kasubdit Pengelolaan Orbit Satelit, staf Subdit Pengelolaan Orbit Satelit, PTRI Jenewa, bersama dengan PSN melakukan kunjungan ke ITU. Mereka bertemu manajemen ITU dan memberikan penjelasan komprehensif terkait permasalahan yang dihadapi Indonesia, serta meminta saran dan masukan jika ada hal-hal yang masih dianggap kurang terkait proposal dan dokumen pendukung yang telah disampaikan sebelumnya.

Pada pertemuan itu, Kementerian Kominfo menjelaskan tentang pentingnya satelit bagi Indonesia. Kominfo juga menjelaskan kronologis permasalahan dalam pengadaan satelit di slot orbit 146BT yang menyebabkan tertundanya pengadaan satelit PSN VI. Sementara itu, PSN menjelaskan bahwa satelit interim yang digunakan adalah benar-benar untuk operasional dan bukan hanya untuk memperpanjang umur filing saja.

Pada tanggal 17- 21 Juli 2017 diadakan sidang RRB ke-78 di Jenewa, Swiss. Hasil sidang memutuskan menyetujui permohonan Indonesia. Dengan demikian, frekuensi yang ada pada filing PALAPA PAC-C 146E dan PALAPA PAC-KU 146E dapat beroperasi sesuai dengan filing yang telah didaftarkan ke ITU.

Biro Humas

Kementerian Komunikasi dan Informatika

Satelit PSN VR (yang merupakan satelit sewaan floater Palapa C2 yang dioperasikan oleh PT Pasifik Satelit Nusantara) telah mencapai akhir masa pakainya dan tidak beroperasi lagi. Satelit ini mengorbit di slot 146°BT sejak Desember 2014 untuk menyelamatkan filing satelit Indonesia

Saat ini PSN sudah mengoperasikan Satelit VR yang mengorbit sejak 2014 lalu. Ditambah rencana pengoperasian Satelit PSN VI pada 2019 dan PSN VII pada 2022, perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia ini akan mengoperasikan 4 satelit baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengoperasian satelit-satelit tersebut akan membuat PSN mampu menyediakan layanan broadband di Indonesia dengan kapasitas hingga 130 Gbps.

Jika ditambah dengan penyedia jasa satelit di Indonesia lainnya, yakni Telkom dan BRI, maka total kapasitas satelit di Indonesia diperkirakan akan memiliki layanan hingga 150 GBps.  Dengan adanya armada satelit PSN ini, Indonesia tidak akan lagi tergantung pada operator satelit asing untuk penggunaan jasa satelit pada tahun 2022. “Dengan begitu, layanan satelit di Indonesia tidak akan tergantung oleh perusahaan asing lagi, karena perusahaan domestik mampu memenuhi seluruh kebutuhan secara nasional,” kata Adi Rahman.

Indonesia tercatat memiliki 17 satelit yang pernah dan sedang mengorbit di luar angkasa. Palapa, satelit pertama Indonesia meluncur pada 9 Juli 1976 yang kemudian menjadi hari Satelit Palapa (Nasional). Satelit Palapa diluncurkan untuk meningkatkan sistem komunikasi seperti telepon, televisi, dan telegram.

Sementara itu, satelit terbaru Indonesia bernama Nusantara Satu resmi mengorbit pada 19 Februari 2019. Satelit lain yang beroperasi meliputi Lapan-A2, Lapan-A3, Telkom-2, Telkom-3S, Telkom-4 (Merah Putih), BRIsat, dan LAPAN-Tubsat. Semua satelit tersebut tidak hanya berfungsi sebagai jaringan komunikasi, tetapi
berfungsi juga untuk jaringan pengawasan.


SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : 2034 : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)
SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : 2032 : yang masih beroperasi Satelit Telkom-3S (2026)
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015
SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992) : 1995
SATELIT DI ORBIT 105,5° BT (2009) : 2016
SATELIT DI ORBIT 150,5° BT (2016) : 2031 : (yang masih beroperasi BRI Sat) (2026)


SATELIT DI ORBIT (2014) : 146° BT
                                (2019) :2034

17 (24). Satelit Nusantara-1  (PSN-VI)   2019   146° BT

Peluncuran : 7 Agustus 2018, Akhir operasi : 2034
Pembuat : Space System Loral.
Peluncur : Falcon 9, SpaceX.
Pemilik : PT Pasifik Satelit Nusantara.
Orbit : 146 derajat BT.
Kapasitas : 26 transponder C-Band, 12 transponder Exetended C-Band, 8 transponder Ku-Band.

2019 : PSN meluncurkan Satelit Nusantara-1 (*7) dari Cape Canaveral, Amerika Serikat. Satelit dibuat oleh Space Systems Loral (SSL). Satelit ini adalah Satelit Broadband Indonesia pertama yang memfungsikan Teknologi High Throughput Satellite (HTS) dengan kapasitas bandwidth yang lebih besar

Satelit Nusantara-1 yang merupakan Satelit Broadband pertama Indonesia, yang menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS) dengan kapasitas bandwidth besar untuk memberikan layanan akses broadband. Satelit Nusantara-1 memiliki kapasitas 26 transponder C-band dan 12 transponder Extended C-band serta 8 spot beam Ku-band dengan total kapasitas bandwidth mencapai 15 Gbps, dengan area cakupan (coverage) hingga ke seluruh wilayah Indonesia. Nusantara-1 dibuat oleh Space System Loral (SSL), Amerika Serikat dan diluncurkan di Cape Canaveral, Amerika Serikat pada Februari 2019 menggunakan roket peluncur Falcon-9 dari perusahaan Space-X.

Berteknologi Hight Throughput Satellite (HTS) dan menjadi satelit broadband pertama Indonesia. Akan mendukung produk Ubiqu dan Sinyalku milik PSN.

Satelit PSN VI pada 2019
Saat ini PSN sudah mengoperasikan Satelit VR yang mengorbit sejak 2014 lalu. Ditambah rencana pengoperasian Satelit PSN VI pada 2019 dan PSN VII pada 2022, perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia ini akan mengoperasikan 4 satelit baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengoperasian satelit-satelit tersebut akan membuat PSN mampu menyediakan layanan broadband di Indonesia dengan kapasitas hingga 130 Gbps.

SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : 2034 : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)
SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : 2032 : yang masih beroperasi Satelit Telkom-3S (2026)
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015
SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992) : 1995
SATELIT DI ORBIT 105,5° BT (2009) : 2016
SATELIT DI ORBIT 150,5° BT (2016) : 2031 : (yang masih beroperasi BRI Sat) (2026)
SATELIT DI ORBIT (2014) : 146° BT
                                (2019) :2034 : yang masih beroperasi Satelit Nusantara 1
                                (2023) : 2039 : yang masih beroperasi Satelit Satria 1 (Nusantara 3)

18 (27). Satelit Nusantara-3  (PSN-VII) Satria-1  2023    146° BT
Sampai 2039

orbit Satelit SATRIA-1 sama persis dengan Satelit Nusantara 1. Keduanya menempati slot orbit geostasioner yang sama, yaitu 146 derajat Bujur Timur (BT), yang posisinya berada tepat di atas wilayah Papua.

Satelit Nusantara 1: Diluncurkan lebih dulu pada Februari 2019. Satelit ini merupakan satelit broadband berteknologi HTS (High Throughput Satellite) pertama di Indonesia milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN)

Meskipun berbagi slot orbit yang sama, SATRIA-1 dirancang sebagai proyek pemerintah dengan kapasitas yang jauh lebih besar mencapai 150 Gbps untuk mendukung fasilitas publik.

Satelit SATRIA-1: Diluncurkan pada Juni 2023. Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) merupakan satelit multifungsi milik pemerintah (dioperasikan oleh PSN untuk BAKTI Kominfo) yang juga menempati slot 146 derajat BT.

2023 : PSN Meluncurkan Satelit Nusantara-3 atau Satria 1 (*10)

Satelit PSN VII (yang awalnya sempat direncanakan sebagai Satelit Nusantara Tiga) dialihkan menjadi proyek satelit multifungsi pemerintah Indonesia dan berubah nama menjadi SATRIA-1. Satelit ini meluncur pada 18 Juni 2023 dan mengorbit di slot 146\({}^{\circ }\)

PSN VII pada 2022,
Saat ini PSN sudah mengoperasikan Satelit VR yang mengorbit sejak 2014 lalu. Ditambah rencana pengoperasian Satelit PSN VI pada 2019 dan PSN VII pada 2022, perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia ini akan mengoperasikan 4 satelit baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengoperasian satelit-satelit tersebut akan membuat PSN mampu menyediakan layanan broadband di Indonesia dengan kapasitas hingga 130 Gbps.

SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990
SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : 2034 : yang masih beroperasi Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih (2026)   
SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 yang masih beroperasi Satelit Nusantara 5 (2026)
SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : 2032 : yang masih beroperasi Satelit Telkom-3S (2026)
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015
SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992) : 1995
SATELIT DI ORBIT 105,5° BT (2009) : 2016
SATELIT DI ORBIT 150,5° BT (2016) : 2031 : (yang masih beroperasi BRI Sat) (2026)
SATELIT DI ORBIT (2014) : 146° BT
                                (2019) :2034 : yang masih beroperasi Satelit Nusantara 1 (2026)
                                (2023) : 2039 : yang masih beroperasi Satelit Satria 1 (Nusantara 3) (2026)


19 (14). INASAT-1      LEO                       2006             Satelit pertama buatan Indonesia.

Seorbit dengan Iridium (hanya beroperasi 6-12 bulan saja)
Melalui kerjasama PT. Dirgantara Indonesia dan Lembaga penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN),  Indonesia juga berhasil membuat beberapa satelit, salah satunya adalah INASAT-1. Satelit ini merupakan singkatan dari Indonesia Nano Satelit-1. Satelit nano ini memiliki berat kurang lebih 10 hingga 15kg dan memakai frekuensi VHF/UHF. Satelit ini diluncurkan pada tahun 2006. Hebatnya, satelit ini merupakan satelit pertama asli buatan anak Indonesia.

Satelit INASAT-1 (2006) Satelit Pertama buatan Indonesia
INASAT-1 adalah Nano Hexagonal Satelit yang dibuat dan didesain sendiri oleh Indonesia untuk pertama kalinya. INASAT-1 merupakan satelit metodologi penginderaan untuk memotret cuaca buatan LAPAN.

Satelit INASAT-1 2006 Satelit Pertama buatan Indonesia

Selain itu INASAT-1 adalah satelit Nano alias satelit yang menggunakan komponen elektronik berukuran kecil, dengan berat sekitar 10-15 kg. Satelit itu dirancang dengan misi untuk mengumpulkan data yang berhubungan erat dengan data lingkungan (berupa fluks magnet didefinisikan sebagai muatan ilmiah) maupun housekeeping yang digunakan untuk mempelajari dinamika gerak serta penampilan sistem satelit.

Adapun satelit itu dirancang bersama oleh PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), khususnya Pusat Teknologi Elektronika (Pustek) Dirgantara. Berbekal nota kesepakatan antara LAPAN, Dirgantara Indonesia, serta dukungan dana dari Riset Unggulan Kemandirian Kedirgantaraan 2003, maka dimulailah rancangan satelit Nano dengan nama Inasat-1 (Indonesia Nano Satelit-1).

Dari segi dinamika gerak akan diketahui melalui pemasangan sensor gyrorate tiga sumbu, sehingga dalam perjalanannya akan diketahui bagaimana perilaku geraknya. Penelitian dinamika gerak ini menjadi hal yang menarik untuk satelit-satelit ukuran Nano yang terbang dengan ketinggian antara 600-800 km.

Peluncuran : 2006.
Akhir operasi : 6-12 bulan.
Pembuat : Lapan dkk.
Peluncur : Lapan dkk.
Pemilik : Lapan dkk.

Satelit kecil berkonsep Nano Hexagonal Satellite yang berada di orbit rendah seperti komunikasi di daerah terpencil, pengamatan bumi, serta pengataman lingkungan dan cuaca.

Hasil kerja sama Lapan, PT Dirgantara Indonesia, PT LEN, ITB, dan LIPI dengan nama panjang Indonesia Nano Satellite-1. Satelit pertama buatan Indonesia.


20 (15). LAPAN-TUBSAT(Lapan A-1)     2007    LEO (Orbit Polar)             

630 km (2-3 tahun/2010) sistem komunikasinya masih berfungsi sampai tahun 2026 ini

Satelit mikro pertama Indonesia.untuk melakukan identifikasi gerak kapal laut, identifikasi bencana, dan
                                                                                        sebagainya

Satelit LAPAN-TUBSAT (2007) Satelit Mikro Pertama di Indonesia.
 LAPAN-Tubsat.
Peluncuran : 2007.
Akhir operasi :-.
Pembuat : Lapan dkk.
Peluncur : Satish Dhawan, India.
Pemilik : Lapan dkk.


LAPAN-TUBSAT adalah sebuah satelit mikro yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universität Berlin; TU Berlin). Wahana ini dirancang berdasarkan satelit lain bernama DLR-TUBSAT, namun juga menyertakan sensor bintang yang baru. Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter ini akan digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.

Satelit LAPAN TUBSAT 2007 Satelit Mikro Pertama di Indonesia

LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer.

Manuver attitude ini dilakukan dengan menggunakan attitude control system yang terdiri atas 3 reaction wheel, 3 gyro, 2 sun sensor, 3 magnetic coil dan sebuah star sensor untuk navigasi satelit. Komponen-komponen inilah yang membedakannya dengan satelit mikro lain yang hanya mengandalkan sistem stabilisasi semi pasif gradien gravitasi dan magneto torquer, sehingga sensornya hanya mengarah vertikal ke bawah.

Sebagai satelit pengamatan, satelit ini dapat digunakan untuk melakukan pemantauan langsung kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor dan kecelakaan kapal maupun pesawat. Tapi pengamatan banjir akan sulit dilakukan karena kamera tidak bisa menembus awan tebal yang biasanya menyertai kejadian banjir.

Satelit LAPAN-TUBSAT (2007) Satelit Mikro Pertama di Indonesia.
LAPAN-TUBSAT adalah sebuah satelit mikro yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universität Berlin; TU Berlin). Wahana ini dirancang berdasarkan satelit lain bernama DLR-TUBSAT, namun juga menyertakan sensor bintang yang baru. Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter ini akan digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.

Satelit LAPAN TUBSAT 2007 Satelit Mikro Pertama di Indonesia

LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer.

Manuver attitude ini dilakukan dengan menggunakan attitude control system yang terdiri atas 3 reaction wheel, 3 gyro, 2 sun sensor, 3 magnetic coil dan sebuah star sensor untuk navigasi satelit. Komponen-komponen inilah yang membedakannya dengan satelit mikro lain yang hanya mengandalkan sistem stabilisasi semi pasif gradien gravitasi dan magneto torquer, sehingga sensornya hanya mengarah vertikal ke bawah.

Sebagai satelit pengamatan, satelit ini dapat digunakan untuk melakukan pemantauan langsung kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor dan kecelakaan kapal maupun pesawat. Tapi pengamatan banjir akan sulit dilakukan karena kamera tidak bisa menembus awan tebal yang biasanya menyertai kejadian banjir.



Satelit mikro pengamatan video yang dikembangkan di Technische Universität Berlin oleh tim insinyur Indonesia.

Menjadi satelit mikro pertama buatan Indonesia.


21 (19)     Lapan A-2                             Juni 2013         Peluncuran dari India, mitigasi bencana. Satelit ini memiliki sensor Automatic Identification System (AIS)
                                                                                        untuk
                                                                                        identifikasi kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati satelit tersebut


 Lapan-A2 (Lapan-Orari).
Peluncuran : 28 September 2015.
Akhir operasi : -.sampai saat ini (2026) masih beroperasi
Pembuat : Lapan dkk.
Peluncur : Roket PSLV C-30.
Pemilik : Lapan dkk.

Hasil kerja sama Lapan dengan IPB. Berfungsi mengidentifikasi kapal pencuri ikan.

LAPAN A2 merupakan satelit terbaru yang dirakit oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan diluncurkan dari Sriharikota, India, pada September 2015. Satelit ini merupakan penerus dari satelit LAPAN A1 atau LAPAN-TUBSat yang dibuat di Jerman.

Satelit didesain untuk tiga misi, yaitu pengamatan Bumi, pemantauan kapal dan komunikasi radio amatir. Dengan berat sekitar 78 kg, LAPAN A2 membawa muatan Automatic Identification System (AIS).

Teknologi tersebut memungkinkan satelit untuk dapat melakukan identifikasi terhadap kapal yang akan melintasi wilayah jangkauan LAPAN A2. Untuk misi pengamatan Bumi, satelit menggunakan kamera digital observasi Bumi dengan kamera 4 band multispectral scanning. Kamera itu beresolusi 18 m dengan cakupan 120 kilometer dan kamera resolusi 6 m dengan cakupan 12 x 12 kilometer.

Satelit juga dilengkapi dengan Automatic Packet Reporting System (APRS) yang mendukung komunikasi untuk penanganan bencana, memungkinkan satelit sebagai penghubung sekitar 700 ribu pengguna radio amatir atau Orari (Organisasi Amatir Radio Indonesia).



22 (31). Lapan-A3 (Lapan-A3/IPB, LISat). Orbit Polar LEO
Peluncuran : 22 Juni 2016.
Akhir operasi : -. masih beroperasi 2026
Pembuat : Lapan.
Peluncur : Roket PSLV C34, India.
Pemilik : Lapan, IPB.

Memantau kondisi sumber penghasil makanan dan lingkungan di Indonesia.

Beberapa bulan setelah peluncuran satelit LAPAN A2, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional kembali meluncurkan satelit generasi selanjutnya, LAPAN A3. Satelit digarap bersama dengan Institut Pertanian Bogor.

Bentuk satelit LAPAN A3. (Foto: LAPAN)
zoom-in-whitePerbesar
Bentuk satelit LAPAN A3. (Foto: LAPAN)

Seperti halnya A2, LAPAN A3 juga diluncurkan di Srihari kota, India, dengan menumpang roket PSLV C-34 milik India pada 22 Juni 2016. Satelit memiliki misi untuk bantu mengidentifikasi kapal pencuri ikan.

Untuk melakukan misi tersebut, LAPAN A3 yang berbobot 115 kilogram dan berdimensi 50 x 57,4 x 42,4 centimeter ini mengusung resolusi multispektral (4-band) dan sebuah kamera digital.

Kendati masih menggunakan komponen impor, satelit dibuat murni di dalam negeri dan memakai komponen dalam negeri berupa star censor dan reaction wheel.

Satelit nasional NEO-1 masuk tahap uji, melanjutkan jejak LAPAN-A
BRIN terus memperkuat kemandirian Indonesia di bidang teknologi antariksa dengan mengembangkan satelit generasi terbaru Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) yang ditargetkan meluncur pada akhir 2026.
Satelit nasional NEO-1 masuk tahap uji, melanjutkan jejak LAPAN-A
Satelit LAPAN-A1/LAPAN-Tubsat mengorbit 18 tahun, diluncurkan 10 Jan 2007, satelit mikro BRIN. Foto: BRIN
17 Januari 2026

Keberhasilan Indonesia dalam penguasaan teknologi satelit ditandai dengan peluncuran dan pengoperasian tiga satelit nasional, yakni LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3. Ketiganya menjadi fondasi penting bagi pengembangan satelit generasi berikutnya yang kini tengah digarap BRIN.

Senior Engineer Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Suraduita Mupasanta, mengatakan capaian tersebut menunjukkan kemampuan Indonesia untuk berdiri mandiri dalam riset dan pengembangan teknologi antariksa. Menurut dia, setiap satelit dalam seri LAPAN-A memiliki peran strategis sekaligus menjadi tahapan pembelajaran teknologi bagi peneliti dalam negeri.

LAPAN-A1 merupakan satelit generasi pertama yang bersifat eksperimental. Satelit ini dikembangkan melalui kerja sama peneliti Indonesia dengan Technische Universität Berlin, Jerman. Dirancang dan dibangun di Jerman, LAPAN-A1 beroperasi di orbit polar untuk misi pengamatan Bumi.

“Walaupun misi utamanya sudah selesai, satelit ini melampaui usia operasional yang diperkirakan dan hingga kini masih dapat menerima perintah,” ujar Suraduita saat menerima kunjungan mahasiswa Universitas Prof. Dr. Hamka Muhammadiyah di Bogor, Kamis (15/1), seperti dikutip BRIN.

LAPAN-A1 diluncurkan pada 10 Januari 2007 menggunakan roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) C7 milik India. Satelit tersebut awalnya dirancang beroperasi selama dua hingga tiga tahun, namun sistem komunikasinya masih berfungsi hingga sekarang.

Pengembangan berlanjut dengan kehadiran LAPAN-A2 yang dikerjakan bersama Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). Satelit ini diluncurkan pada 28 September 2015 menggunakan roket PSLV C30 dan hingga kini masih aktif beroperasi.

LAPAN-A2 memiliki peran penting dalam pemantauan Bumi dan mitigasi bencana melalui muatan spacecam, voice repeater (VR), dan Automatic Packet Reporting System (APRS). Selain itu, satelit ini mendukung pemantauan kapal melalui sistem Automatic Identification System (AIS) dengan dukungan komunitas ORARI di berbagai wilayah Indonesia.

Sementara itu, LAPAN-A3 dikembangkan bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan diluncurkan pada 22 Juni 2016 menggunakan roket PSLV C34. Satelit ini masih aktif menyediakan data global untuk misi AIS serta pemantauan vegetasi melalui kamera multispektral.

Seluruh satelit nasional tersebut dikendalikan dari stasiun bumi milik BRIN yang tersebar di Rancabungur (Bogor), Kototabang (Sumatera Barat), Parepare (Sulawesi Selatan), dan Biak (Papua).

“Pengembangan terbaru adalah satelit NEO-1 yang saat ini telah memasuki tahap pengujian dan integrasi,” kata Suraduita. Satelit ini diharapkan menjadi lompatan berikutnya dalam mendukung kebutuhan data pengamatan Bumi untuk berbagai kepentingan nasional.

GSO
SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990

SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : 2034 : masih beroperasi Satelit Telkom-4 
                                                                      atau Satelit Merah Putih (2026)  

SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 : masih beroperasi Satelit Nusantara SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : 2032 : masih beroperasi Satelit Telkom-3S
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015
SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992) : 1995
SATELIT DI ORBIT 105,5° BT (2009) : 2016
SATELIT DI ORBIT 150,5° BT (2016) : 2031 : masih beroperasi BRI Sat (2026)
SATELIT DI ORBIT (2014) : 146° BT
                                (2019) :2034 : masih beroperasi Satelit Nusantara 1 (2026)
                                (2023) : 2039 : masih beroperasi Satelit Satria 1 (Nusantara 3) 



SATELIT DI ORBIT POLAR : LEO
LAPAN-A1   2007 : masih beroperasi
LAPAN-A2  2015 : masih beroperasi
LAPAN-A3   2016 : masih beroperasi


23 (26). Surya Satelit 2022 

PSN membantu peluncuran nanosatellite pertama Indonesia, Surya Satelit-1 (SS-1)

Surya Satelit 1 adalah satelit nano buatan Indonesia yang diluncurkan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada tanggal 27 November 2022. Satelit ini merupakan hasil kerja sama antara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Surya University.

2022-2023 hanya beroperasi 1 tahun saja

SS1 Satelit memiliki ukuran 10x10x11,35 cm dan berat 1,3 kg. Satelit ini dilengkapi dengan modul Automatic Packet Reporting System (APRS) yang berfungsi untuk mengirimkan pesan teks singkat ke Bumi. Teknologi APRS ini dapat dikembangkan untuk berbagai aplikasi, seperti mitigasi bencana, pemantauan jarak jauh, dan komunikasi darurat.

SS1 Satelit diluncurkan dari Cape Canaveral, Amerika Serikat, menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX. Satelit ini berhasil mencapai ISS pada tanggal 28 November 2022.

-1 dikembangkan oleh Surya University dengan dukungan dan supervisi ahli dari Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Pusteksat LAPAN) BRIN. Proyek ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI), PT Pudak Scientific, PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), dan pemangku kepentingan lainnya

Biaya pembuatan satelit nano ini sekitar Rp3 miliar termasuk bantuan komponen satelit dari pihak PSN. Peluncuran satelit SS-1 itu dinilai menjadi sejarah bagi industri antariksa nasional karena menjadi satelit pertama yang dikembangkan secara mandiri oleh anak-anak muda Indonesia.

Surya Satelit 1 digunakan untuk mitigasi bencana, dengan APRS yang hendak digunakan untuk mengirimkan informasi dan data tentang bencana ke Bumi. Selain itu Surya Satelit 1 juga digunakan untuk pemantauan jarak jauh, di mana APRS dapat digunakan untuk memantau wilayah yang sulit dijangkau, seperti daerah pegunungan dan hutan. Surya Satelit 1 juga dapat digunakan untuk keperluan komunikasi darurat, seperti dalam keadaan darurat bencana alam.

Mengenal SS-1, Satelit Nano RI yang Mengangkasa Hingga Tahun Depan


Surya Satelit-1 (SS-1), proyek ilmuwan lokal yang digarap selama 6 tahun, kini mengorbit diperkirakan hingga tahun depan. Simak rincian manfaatnya di sini.

"Untuk umurnya mungkin dari estimasi kami 6-12 bulan," ujar Setra Yoman Prahyang, Surya Satellite-1 Project Leader, pada acara pelepasan SS-1 dari ISS, di kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Jumat (6/1).

Ia menyebut angka tersebut dihasilkan dari proses pemodelan timnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SS-1 adalah satelit nano dengan model cubesat yang berukuran 10 x 10 x 11.35 sentimeter dan berat 1 hingga 1,3 kilogram. Ukurannya lebih kecil dari satelit mikro atau tubesat yang biasanya memiliki berat 50-70 kilogram.

Proyek SS-1 sendiri diinisiasi oleh engineer muda dari Surya University yang bekerja sama dengan Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI) sejak Maret 2016. Pada 2017, SS-1 mulai dikerjakan dengan supervisi dari para periset di Pusat Teknologi Satelit.

Usai rampung digarap, satelit nano ini diluncurkan ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS) pada Minggu (27/11) dini hari dengan menumpang Roket Falcon 9 CRS-26 milik perusahaannya Elon Musk, SpaceX.

"Satelit nano karya anak bangsa Surya Satellite-1 (SS-1) telah berhasil diluncurkan dini hari tadi waktu Indonesia, atau tepatnya pukul 02:20 PM waktu Amerika Serikat (EST), menggunakan Roket SpaceX Falcon 9 CRS-26," ungkap Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA)-BRIN di akun Instagramnya, Minggu (27/11).

Usai menumpang ISS beberapa lama, satelit yang ditenagai panel surya ini dilepaskan menuju orbit untuk beroperasi di ketinggian 400-420 kilometer di atas permukaan Bumi dengan sudut inklinasi 51,7 derajat.

"Jadi ketinggian ISS itu 380 sampai 420 kilometer nanti orbitnya SS-1 pun akan sama. Begitu dia keluar dari ISS dia sebenarnya sudah sampai di orbitnya," jelas Setra.

Setra menjelaskan SS-1 lama kelamaan akan kehilangan posisinya di orbit karena satelit nano ini tidak dibekali dengan tenaga penggerak atau propulsion. Perhitungan yang dilakukan Setra dan timnya memperkirakan SS-1 akan kehilangan posisinya dalam 6 hingga 12 bulan.

"Secara teknis perlu ada sistem propulsion yang mana dia berfungsi untuk menggerakkan dia kalau udah mulai turun dinaikkan kembali ke orbitnya. Untuk SS-1 karena memang pertama kali kita desainnya sederhana jadi tidak ada propulsion-nya," tutur Setra.

Makna setahun hidup

Satelit mungil ini disebut memiliki dua fungsi, yakni untuk mengirim pesan singkat atau SMS gratis lewat satelit, dan komunikasi radio.

"Satelit ini bawa dua misi. Yang pertama untuk ngirim SMS tapi lewat satelit. Jadi SMS-nya enggak perlu pake BTS, mau di tengah laut, atau di atas gunung bisa kirim SMS, gratis. Sama satu lagi untuk radio communication, tapi kan radio communication terbatas," jelas Robertus Heru Triharjanto, Kepala ORPA BRIN di acara yang sama.

Heru menyebut satelit semacam ini memiliki potensi pemanfaatan yang cukup beragam, mulai dari sensor gempa, tsunami, hingga kebutuhan komersial seperti asset tracking.

"Kalau aplikasi ke depannya, SMS ini yang kirim bukan orang, tapi alat, sensor bisa kirim SMS. Seperti sensor gempa, sensor tsunami, sensor volcano, asset tracking bisa taruh di atas container nanti kita bisa track container kita ada di mana," jelasnya.

Namun, penggunaan untuk kebutuhan komersial perlu ada penyesuaian, yakni operator harus menggunakan frekuensi komersial. Pasalnya, frekuensi amatir hanya untuk kegiatan amatir dan kebencanaan.


GSO
SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990

SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : 2034 : masih beroperasi Satelit Telkom-4 
                                                                      atau Satelit Merah Putih (2026)  

SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 : masih beroperasi Satelit Nusantara SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : 2032 : masih beroperasi Satelit Telkom-3S
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015
SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992) : 1995
SATELIT DI ORBIT 105,5° BT (2009) : 2016
SATELIT DI ORBIT 150,5° BT (2016) : 2031 : masih beroperasi BRI Sat (2026)
SATELIT DI ORBIT (2014) : 146° BT
                                (2019) :2034 : masih beroperasi Satelit Nusantara 1 (2026)
                                (2023) : 2039 : masih beroperasi Satelit Satria 1 (Nusantara 3) 



SATELIT DI ORBIT POLAR : LEO
LAPAN-A1   2007 : masih beroperasi
LAPAN-A2  2015 : masih beroperasi
LAPAN-A3   2016 : masih beroperasi
Surya Satelit 1 : 2022-2023



SATELIT DI ORBIT 124° BT (2012)
24 (29). Lippostar-1     2012    124 derajat BT.    Lippo Satelite.


 JCSAT-4B (Lippostar-1).
Peluncuran : 15 Juni 2012
Akhir operasi : 2028.
Pembuat : Lockheed Martin.
Peluncur : Ariane.
Pemilik : Lippo Satelite.
Orbit : 124 derajat BT.
Kapasitas : 32 transponder C-Band dan 12 transponder Ku.
 

Satelit ini merupakan satelit yang dibuat oleh Lippo Group yang bekerjasama dengan perusahaan SKY Perfect JSat Corporation dan Mitsui Corporation asal Jepang. Satelit yang dirancang oleh Lockheed Martin Commercial Space System ini memiliki masa aktif 15 tahun dengan berat 4.350 ton dan dilengkapi dengan transponder 44 Ku-band yang mampu menjangkau seluruh Indonesia, benua Asia dan wilayah Oceania. Satelit ini diluncurkan pada tanggal 15 Juni 2012 dengan roket Ariane 5 ECA dari Guyana Perancis.

Perjanjian kerja sama dengan Lippo Group disepakati pada hari peluncuran untuk menggunakan satelit tersebut guna memancarkan siaran satelit TV direct to home (DTH) di seluruh Indonesia.

Pengelolaan Lippostar-1 dilakukan grup Mochtar Riyadi tersebut melalui PT Tecnoves International yang 85% sahamnya dimiliki oleh PT Multipolar Tbk melalui PT Multipolar Multimedia Prima. Pada 2013 layanan TV itu diluncurkan dengan merek Big TV.


GSO
SATELIT DI ORBIT 83° BT (1976) : 1985
SATELIT DI ORBIT 77° BT (1977) : 1990

SATELIT DI ORBIT 108° BT (1983) : 2034 : masih beroperasi Satelit Telkom-4 
                                                                      atau Satelit Merah Putih (2026)  

SATELIT DI ORBIT 113° BT (1987) : 2040 : masih beroperasi Satelit Nusantara SATELIT DI ORBIT  118° BT (1992) : 2032 : masih beroperasi Satelit Telkom-3S
SATELIT DI ORBIT 107,7° BT (1997) : 2024
SATELIT DI ORBIT 123° BT (2000) : 2015

SATELIT DI ORBIT 124° BT (2012)  : 2028 :  beroperasi JCSAT-4B (Lippostar-1).
SATELIT DI ORBIT 134° BT (1992) : 1995

SATELIT DI ORBIT 105,5° BT (2009) : 2016
SATELIT DI ORBIT 150,5° BT (2016) : 2031 : masih beroperasi BRI Sat (2026)
SATELIT DI ORBIT (2014) : 146° BT
                                (2019) :2034 : masih beroperasi Satelit Nusantara 1 (2026)
                                (2023) : 2039 : masih beroperasi Satelit Satria 1 (Nusantara 3) 



SATELIT DI ORBIT POLAR : LEO
LAPAN-A1   2007 : masih beroperasi
LAPAN-A2  2015 : masih beroperasi
LAPAN-A3   2016 : masih beroperasi
Surya Satelit 1 : 2022-2023







Gagal

24.(25.) Satelit Nusantara 2    gagal

2020 : PSN bersama Indosat meluncurkan Satelit Nusantara-2 (*8), dari China. Satelit dibuat oleh China Great Wall Industry Corp. Dibuat untuk mendukung Satelit Nusantara-1, dan menggantikan Satelit Palapa D yang telah habis beroperasi, sayangnya Satelit Nusantara-2 gagal mencapai orbit GSO

Satelit Nusantara-2 yang sesuai jadwal telah diluncurkan dari Xichang Satellite Launch Center (XLSC), Tiongkok menggunakan Roket Long March 3B, pada 2020. Sayangnya, satelit ini hilang kontak dan gagal mengorbit.  Dalam pengoperasian satelit, terdapat tiga stage. Satelit Nusantara II beroperasi normal pada stage pertama dan kedua. Setelah itu, satelit mengalami anomali pada saat stage ketiga.  Stage ketiga itu memiliki dua roket, dan salah satu roketnya tidak menyala sehingga tidak mendapatkan kecepatan yang cukup untuk masuk ke orbit yang telah ditentukan. Satelit Nusantara-2 terbang di ketinggian sekitar 170 KM dengan kecepatan 7.100 meter per detik, kemudian jatuh ke lautan dan tidak bisa diselamatkan,


25 (4).     Palapa B2     3 Februari 1984 8:00 EST 

Gagal Perumtel     Challenger F4(STS-41-B)     Hughes (HS-376)[2]     dilepas dari wahana pada 16:00 EST[4], gagal dan dijemput oleh
                                                                                                                                                                                                                        STS-51A pada November
                                                                                                                                                                                                                        1984[1]


Palapa-B2.
Peluncuran : 26 Februari 1984.
Akhir operasi : Gagal orbit.
Peluncur : STS-11.
Pembuat : Hughes.
Pemilik : Perumtel.
Orbit : -.
Kapasitas : 24 transponder.
Status : Tidak berhasil ditempatkan pada orbit.



26 (8).     Palapa C1     31 Januari 1996-1999     Gagal                      Satelindo                     Atlas-2AS     Hughes (HS-601)              Diluncurkan dari Tanjung     
                                                                                                                                                                                                                Canaveral
                               1999 : HGS3                                                     Hughes                                                                                           LC-36B.[6] Gagal beroperasi
                                                                                                                                                                                                                 sehingga
                               2000 : Anatolia1                                50º BT     Kalitel                                                                                              pada Januari 1999 beralih
                                                                                                                                                                                                                   kepemilikan ke
                               2002 : Paksat1                                 38ºBT       Pakistan                                                                                          Hughes dan berganti nama
                                                                                                                                                                                                                menjadi        
                                                                                                                                                                                                                HGS3.Desember 2000 disewa
                                                                                                                                                                                                                Kalitel dari
                                                                                                                                                                                                                AS di 50º BT dan menjadi
                                                                                                                                                                                                                    Anatolia 1,
                                                                                                                                                                                                                   Agustus 2002 disewa Pakistan
                                                                                                                                                                                                                    di 38ºBT
                                                                                                                                                                                                                menjadi Paksat1.[7]

                        1996 : PSN (bersama Satelindo) membeli Satelit Palapa C1 (*2) dan Satelit Palapa C2 (*3).
                        Satelit Palapa C1 diluncurkan dari Cape Canaveral, USA, dan Satelit Palapa C2 diluncurkan dari Kouru, French Guiana. PSN memiliki 12
                        extended C-band transponders di setiap Satelit

Satelit Palapa C1 adalah satelit komunikasi pertama dalam generasi Palapa C yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Palapa C1 diproduksi oleh Hughes (Amerika Serikat, AS) dan diluncurkan pada tanggal 31 Januari 1996 di Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral (LC-36B) AS, menggunakan roket Atlas 2AS. Satelit ini dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa B4 pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT dengan rentang operasi selama 7 tahun. Namun setelah terjadi kegagalan pengisian battery pada tanggal 24 November 1998 akhirnya Palapa C1 dinyatakan tidak layak beroperasi dan digantikan oleh Palapa C2.

Palapa-C1.
Peluncuran : 31 Januari 1996.
Akhir operasi : 1999.
Pembuat : Hughes.
Peluncur : Atlas 2AS
Pemilik : Telkom.
Orbit : 113 derajat BT.
Kapasitas : 30 transponder, terdiri dari 24 transporder aktif dan 6 transponder tambahan..
Status : Sempat berganti nama menjadi HGS 3, Anatolia 1, dan Paksat 1.

 

8.     Palapa C1     31 Januari 1996-1999     Gagal                      Satelindo                     Atlas-2AS     Hughes (HS-601)              Diluncurkan dari Tanjung     
                                                                                                                                                                                                                Canaveral
                               1999 : HGS3                                                     Hughes                                                                                           LC-36B.[6] Gagal beroperasi
                                                                                                                                                                                                                 sehingga
                               2000 : Anatolia1                                50º BT     Kalitel                                                                                              pada Januari 1999 beralih
                                                                                                                                                                                                                   kepemilikan ke
                               2002 : Paksat1                                 38ºBT       Pakistan                                                                                          Hughes dan berganti nama
                                                                                                                                                                                                                menjadi        
                                                                                                                                                                                                                HGS3.Desember 2000 disewa
                                                                                                                                                                                                                Kalitel dari
                                                                                                                                                                                                                AS di 50º BT dan menjadi
                                                                                                                                                                                                                    Anatolia 1,
                                                                                                                                                                                                                   Agustus 2002 disewa Pakistan
                                                                                                                                                                                                                    di 38ºBT
                                                                                                                                                                                                                menjadi Paksat1.[7]

                        1996 : PSN (bersama Satelindo) membeli Satelit Palapa C1 (*2) dan Satelit Palapa C2 (*3).
                        Satelit Palapa C1 diluncurkan dari Cape Canaveral, USA, dan Satelit Palapa C2 diluncurkan dari Kouru, French Guiana. PSN memiliki 12
                        extended C-band transponders di setiap Satelit

Palapa-C1.
Peluncuran : 31 Januari 1996.
Akhir operasi : 1999.
Pembuat : Hughes.
Peluncur : Atlas 2AS
Pemilik : Telkom.
Orbit : 113 derajat BT.
Kapasitas : 30 transponder, terdiri dari 24 transporder aktif dan 6 transponder tambahan..
Status : Sempat berganti nama menjadi HGS 3, Anatolia 1, dan Paksat 1.


Satelit Palapa C1 1996
Satelit Palapa C1 adalah satelit komunikasi pertama dalam generasi Palapa C yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Palapa C1 diproduksi oleh Hughes (Amerika Serikat, AS) dan diluncurkan pada tanggal 31 Januari 1996 di Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral (LC-36B) AS, menggunakan roket Atlas 2AS. Satelit ini dimaksudkan sebagai pengganti satelit Palapa B4 pada Orbit Geo Stasioner slot 113º BT dengan rentang operasi selama 7 tahun. Namun setelah terjadi kegagalan pengisian battery pada tanggal 24 November 1998 akhirnya Palapa C1 dinyatakan tidak layak beroperasi dan digantikan oleh Palapa C2.


18.     Telkom-3     2012    Gagal                            Telkom     Proton-M Briz-M     ISS Reshetnev (Ekspress-1000N) & Alcatel (Payload)     

Proses tender selesai pada Desember 2008.Gagal dalam peluncuran. Satelit Telkom-3 yang diluncurkan pada 2012 tidak pernah mencapai orbit yang direncanakan akibat masalah teknis dan hilang di antariksa. Pada awal Februari 2021, satelit tersebut memasuki kembali atmosfer bumi dan hancur di atas wilayah Asia Tengah hingga Pasifik (diperkirakan jatuh di Mongolia)

Telkom-3
Telkom-3 dibuat oleh JSC Information Satellite System Academician M.F Reshetnev. Satelit ini menggunakan platform Express-1000N yang dilengkapi 32 transponder C-band dan 10 transponder Ku-band dengan masa aktif mencapai 15 tahun. Namun dalam proses peluncurannya, pada tanggal 6 Agustus 2012 satelit ini mengalami kegagalan dalam mencapai orbit.

Peluncuran : 2012
Akhir operasi : Gagal.
Pembuat : ISS Reshetnev dan Alcatel.
Peluncur : Proton M.
Pemilik : Telkom.
Orbit : - derajat BT.
Kapasitas : 42 transponder.

Terdampar di orbit yang tidak digunakan setelah kegagalan upper stage dan kemudian hilang.


22. Satelit Aquila 2         1997 : PSN  mengakuisisi 2 Transponder C-Band dari Satelit Aquila II (*4) milik Mabuhay, Perusahaan Satelit Philippines
Satelit Aquila II (bagian dari program kendaraan peluncur VLM Brasil) dirancang untuk beroperasi di Orbit Rendah Bumi (LEO), dengan ketinggian operasional sekitar 700 km dan melintasi orbit kutub (polar orbit)
Tipe Orbit: Low Earth Orbit (LEO).Ketinggian: 700 km.Fungsi: Roket peluncur Aquila 2 ditargetkan untuk membawa muatan (satelit kecil) seberat 500 k
Satelit Agila II milik Mabuhay Philippines Satellite Corporation diluncurkan dan mengorbit pada tahun 1997. Satelit komunikasi ini mengorbit di Geostationary Earth Orbit (GEO) pada ketinggian sekitar \(\sim 36.000\text{ km}\)
Tahun Diluncurkan: 19 Agustus 1997.Jenis Orbit: Geostationary Earth Orbit (GEO) di \(146^{\circ }\)

enis Orbit: Geostationary Earth Orbit (GEO) di \(146^{\circ }\)
endaraan Peluncur: Roket Long March 3B dari Xichang Satellite Launch Center di Tiongkok.Masa Pakai: Dirancang untuk beroperasi selama 15 tahun
Satelit ini kemudian diakuisisi oleh perusahaan Asia Broadcast Satellite (ABS) pada tahun 2009 dan berganti nama menjadi ABS-3.


17(x)(23). Satelit PSN VR  2014    146° BT
2015 PSN bersama Indosat meluncurkan Satelit PSN VR (*6) di slot orbit 146° East

Januari 2013, satelit Chinasat-5B yang beroperasi pada slot orbit 146BT itu, mengalami kerusakan pada salah satu solar panel, karena itu harus dideorbit.
Tahun 2014, PSN menyewa satelit untuk operasional di slot orbit 146BT. Satelit tersebut dikenal sebagai satelit PSN VR (satelit Palapa C2).
November tahun 2016 dengan satelit PSN VR2 (satelit Asiasat-3S),
beroperasinya satelit PSN VR2 di bulan November 2016 dan bbiu frekuensi filing PALAPA PAC-C 146E dapat diperpanjang hingga beroperasinya satelit PSN VI di bulan Juni 2019.




 

 

MISS INFORMATION
32. Satelit VInasat
mulai beroperasi pada tahun 2008. Satelit ini merupakan satelit komunikasi pertama Vietnam yang diproduksi oleh Lockheed Martin dan diluncurkan pada April 2008. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) memiliki hak sewa atas sejumlah transponder di satelit tersebut.
Peluncuran berlangsung pada 18 April 2008, pukul 22:17 GMT, menggunakan roket Ariane 5 ECA dari Pusat Antariksa Guyana di Kourou, Guyana Prancis, yang difasilitasi oleh Arianespace. Vinasat adalah program satelit nasional Vietnam, yang bertujuan untuk memfasilitasi jaringan telekomunikasi di negara tersebut.