Minum Tablet Zat Besi Penambah Darah Di SMK Negeri 1 Semen Kediri

Minum Tablet Zat Besi Penambah Darah Di SMK Negeri 1 Semen Kediri




Kediri, 04/05/2026
SMK Negeri 1 Semen, Kabupaten Kediri, menggelar acara unik, minum tablet penambah zat besi, penambah darah, untuk seluruh siswa wanita dan Ibu guru SMK. Acara ini digelar  menyambung dan sekaligus menutup rangkaian kegiatan HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional) yang digelar sejak 2 Mei 2026.

Kegiatan SMK Negeri 1 Semen Kabupaten Kediri ini, mendukung penuh program Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Program yang menjaga seluruh keluarga SMK Negeri 1 Semen tetap dalam kondisi sehat dan bugar. Dengan kesehatan prima dan tubuh yang bugar kegiatan belajar mengajar pun akan terbantu dengan baik. SMK Negeri 1 Semen berlokasi di Kabupaten Kediri, lengkapnya terletak di Desa Titik, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. 

Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Semen, Moch, Darussalam Sp, MM, kepada Informatika Newsline, Senin (4/5/2026), menyatakan urgensi pentingnya kegiatan ini.

"Ini adalah kegiatan yang fokus pada investasi sumber daya manusia jangka panjang...mencegah anemia ..." Kata Moch. Darussalam
 
"Kegiatan ini adalah agenda rutin tahunan kami, untuk memastikan siswi tetap bugar. Mengkonsumsi tablet tambah darah secara rutin, adalah investasi jangka panjang untuk mencegah anemia. Sehingga konsentrasi belajar tetap terjaga dan tubuh tidak mudah lemas saat beraktivitas di sekolah,” Kata Moch Darussalam melanjutkan.

Jadi, selama ini, kegiatan minum tablet zat besi penambah darah, adalah kegiatan rutin yang biasa dilakukan di SMK Negei 1 Semen. Kegiatan menambah zat besi selalu dilakukan dalam rangkaian yang tidak terpisahkan dari kegiatan Hardiknas setiap tahun.

Akan tetapi kegiatan minum zat besi kali ini berbeda dari peringatan Hardiknas tahun sebelumnya. Kegiatan minum zat besi kali ini dilakukan sembari melakukan aksi besar memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) minum zat besi.

Setelah upacara bendera selesai dilakukan, segera kemudian disusul dengan gerakan minum tablet zat besi penambah darah secara massal. Pembukaan aksi besar memecahkan rekor MURI melalui gerakan minum tablet penambah darah (TTD) secara masal, dilakukan oleh seluruh siswa wanita dan ibu guru, setelah rangkaian upacara bendera.

"Akan tetapi jangan lupa, bahwa suplemen zat besi ini harus dibarengi dengan pola makan yang benar, agar penyerapan zat besi ke dalam tubuh maksimal, " kata Moch Darussalam menerangkan.

“Tablet tambah darah ini sebaiknya diminum dengan air putih atau jus buah yang kaya vitamin C, dan hindari meminumnya bersama kopi atau teh, karena dapat menghambat penyerapan zat besi oleh tubuh. "

"Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial sesaat, tetapi menjadi budaya hidup sehat bagi seluruh warga SMK 1 Negeri Semen Kediri, demi melahirkan generasi emas yang kuat dan cerdas.... " pungkas Bapak Kepala Sekolah

Data yang dikumpulkan oleh Informatika News Line dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2025, menunjukkan bahwa sampai awal tahun 2026 (Januari), selama lebih dari 15 tahun terakhir, angka prevalensi anemia di Indonesia masih sangat tinggi. Kementerian Kesehatan pada awal tahun 2026 ini bahkan menghitung satu dari empat remaja Putri Indonesia dipastikan dalam kondisi mengalami anemia.



Prevalensi Kelompok Usia Remaja (Usia 15–24 Tahun) mencapai 15,5%, Anak-anak (Usia 5–14 Tahun) berada di angka 15,3%, prevalensi anemia defisiensi besi, pada balita di Indonesia mencapai 28,1%. Sementara itu ibu hamil masih menunjukkan angka 48% hingga 48,9% di tingkat nasional. Kondisi ini meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, seperti berat bayi lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur, serta kematian ibu dan bayi.

Diperkirakan terdapat sekitar 19 juta lebih warga Indonesia (untuk wanita usia produktif (15-49 tahun)) yang mengalami anemia setiap tahunnya. Anemia juga berpengaruh pada kerugian ekonomi, akibat penurunan produktivitas dan kecerdasan. Kerugian ekonomi diestimasi mencapai 62,02 triliun rupiah per tahun.

 



Anemia pada Remaja Putri memiliki risiko tinggi akibat kombinasi pola makan buruk (ingin kurus/kurang gizi) dan menstruasi bulanan. Diperkirakan prevalensi anemia pada remaja putri cukup signifikan, dengan laporan studi menunjukkan angka anemia pada wanita usia sekolah dan remaja berkisar antara 18% hingga lebih dari 30%.

Faktor Penyebab dan masalah utamanya, berakar pada defisiensi zat besi, pola makan kurang gizi, dan sering kali kurangnya pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang.

Upaya Penanggulangan yang dilakukan oleh pemerintah diantaranya adalah melalui program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri dan ibu hamil, serta edukasi gizi yang terus menerus.


Mbah Sugeng